Amar Bank: Sejarah Entitas, Perubahan Pemegang Saham, dan Status hingga 2026
Amar Bank sering disebut pionir bank digital Indonesia.
Kalimat itu masuk akal kalau bicara inovasi produknya.
Tapi bank-nya sendiri bukan perusahaan baru.
PT Bank Amar Indonesia Tbk berasal dari PT Anglomas International Bank, dikenal juga sebagai Amin Bank, yang didirikan di Surabaya pada 15 Maret 1991.
Selama bertahun-tahun, bank ini beroperasi dengan skala relatif kecil dan fokus retail.
Kemudian Tolaram masuk.
Bank bertransformasi.
Pada 2014, Tunaiku diluncurkan sebagai platform pinjaman digital berbasis aplikasi.
Pada 2015, bank diluncurkan kembali dengan nama Amar Bank.
Pada 2020, Amar Bank masuk Bursa Efek Indonesia dengan kode AMAR dan meluncurkan mobile banking berbasis cloud.
Sampai Agustus 2026, Amar Bank masih aktif, listed, berizin dan diawasi OJK, serta menjadi peserta LPS sesuai ketentuan.
Yang menarik, ownership story-nya juga berubah cukup signifikan menjelang 2026.
Tolaram tetap controlling shareholder.
Tapi Investree Singapore keluar.
SBI Holdings dari Jepang masuk sebagai shareholder baru.
Per 31 Maret 2026, Tolaram memegang 75,25 persen.
PT Jagat Raya Imajinasi 6,59 persen.
SBI Holdings 5,63 persen.
Public shareholders 10,53 persen.
Treasury stock sekitar 2 persen.
Jadi Amar 2026 bukan hanya digital bank lama yang bertahan.
Shareholder landscape-nya juga masuk chapter baru.
Dari Amin Bank ke Amar Bank
PT Anglomas International Bank berdiri di Surabaya pada 1991.
Nama “Amin Bank” lebih dikenal pada periode awal.
Founder berasal dari keluarga pengusaha lokal.
Modelnya bank konvensional kecil.
Jaringan kantor tidak besar.
Sampai akhir 2014, bank hanya memiliki beberapa kantor di Jawa Timur dan Jakarta.
Lalu Tolaram masuk dan arah bank berubah.
Tolaram adalah grup multinasional berbasis Singapura dengan bisnis lintas sektor dan geography.
Financial services menjadi salah satu area.
Amar kemudian dibangun dengan thesis berbeda.
Gunakan technology untuk melayani underbanked dan UMKM.
Bukan sekadar membuat mobile banking untuk nasabah existing.
Ini distinction penting.
Banyak bank melakukan digitalization.
Amar mencoba menjadikan digital lending sebagai engine.
Tunaiku menjadi symbol transformation.
2014, Tunaiku datang sebelum digital lending menjadi ramai
Tunaiku diluncurkan pada 2014.
Ini sebelum era P2P lending Indonesia meledak.
Sebelum puluhan aplikasi pinjaman memenuhi app store.
Tunaiku berada langsung di bawah bank.
Bukan P2P marketplace.
Bank menggunakan own balance sheet dan banking framework untuk lending sesuai ketentuan.
Technology dipakai untuk aplikasi, scoring, dan processing.
Ini membuat Tunaiku menjadi salah satu pionir application-based digital loan.
Targetnya unbanked dan underserved.
User yang sulit mendapat unsecured loan dari bank tradisional bisa apply lewat digital flow.
Big data dan predictive analytics menjadi bagian narrative produk sejak awal.
Hari ini jargon seperti itu terdengar normal.
Pada 2014, cukup radical.
Tapi satu hal harus clear.
Tunaiku bukan fintech entity terpisah yang punya license sendiri seperti LPBBTI.
Ia produk Amar Bank.
Banking rules apply.
Ini distinction penting saat membandingkan Tunaiku dengan pinjol.
Consumer experience mungkin mirip.
Legal rail berbeda.
2015, bank diluncurkan kembali sebagai Amar
Nama Amar menjadi public identity baru pada 2015.
Perusahaan menyebut bank “relaunched” sebagai Amar Bank.
Transformation tidak berhenti pada lending.
Pada 2019, aplikasi retail bank mulai beroperasi.
Kemudian 2020, Amar meluncurkan mobile smart bank berbasis cloud dan memakai AI untuk membantu user menabung serta mengelola finansial.
Product tersebut pernah dikenal sebagai Senyumku sebelum branding retail semakin dilebur ke Amar Bank.
Ini menunjukkan evolution brand juga terjadi.
Amar punya beberapa layer:
bank entity.
Tunaiku untuk lending.
Senyumku sebagai historical digital banking product.
Amar Bank app sebagai current retail banking identity.
Brand architecture berubah seiring waktu.
Jangan treat semua product sebagai PT berbeda.
Core entity tetap PT Bank Amar Indonesia Tbk.
Ini continuity yang penting.
2020, Amar masuk Bursa
Amar Bank tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Januari 2020 dengan ticker AMAR.
Listing mengubah governance environment.
Public shareholder masuk.
Disclosure menjadi lebih luas.
Quarterly report.
Annual report.
RUPS.
Material information.
Semua public.
Tolaram tetap controlling shareholder.
Per akhir 2024, Tolaram memegang sekitar 70,95 persen.
Investree Singapore punya porsi besar saat itu.
Public investor juga ada.
Kemudian 2025 membawa perubahan yang cukup significant.
Investree Singapore divest.
SBI Holdings masuk.
Ini menarik karena Investree sendiri sedang mengalami problem besar di ecosystem fintech Indonesia.
Masuknya SBI memberi shareholder profile baru yang lebih global institutional.
SBI adalah financial group Jepang dengan bisnis securities, banking, insurance, dan fintech.
Buat Amar, investor seperti ini tidak hanya memberi capital signal.
Ada network.
Technology.
Financial expertise.
Potential collaboration.
Tentu shareholder minoritas tidak otomatis mengendalikan strategy.
Control tetap Tolaram.
Tapi composition investor matter untuk market confidence.
Per Maret 2026, Tolaram 75,25 persen
Laporan keuangan kuartal pertama 2026 memberi breakdown yang sangat clear.
Tolaram Pte Ltd: 75,25 persen.
PT Jagat Raya Imajinasi: 6,59 persen.
SBI Holdings: 5,63 persen.
Masyarakat: 10,53 persen.
Treasury stock: 2 persen.
Ini current snapshot yang jauh lebih useful daripada tabel 2024.
Tolaram bahkan meningkatkan porsi dibanding akhir 2024 setelah perubahan shareholder.
Jadi siapa pemilik Amar Bank?
Controlling shareholder-nya Tolaram Pte Ltd.
Bukan SBI.
Bukan PT Jagat Raya Imajinasi.
Mereka shareholder penting, tapi control ada di Tolaram.
Karena AMAR listed, public investors juga punya ownership.
Ini structure company publik.
Kalau seseorang bilang “Amar Bank milik SBI Jepang”, salah.
SBI punya lebih dari lima persen.
Significant.
Bukan controlling.
Entity archive harus distinguish “investor besar” dan “pemegang kendali”.
Tunaiku masih jadi engine penting pada 2026
Amar Bank pada Juni 2026 menyebut Tunaiku telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp19 triliun sejak 2014.
Platform juga disebut menjangkau lebih dari 500 ribu pelaku UMKM.
Ini company-reported metric, tapi cukup menunjukkan Tunaiku bukan legacy product yang ditinggalkan.
Masih menjadi engine retail dan UMKM.
Pada kuartal pertama 2026, gross loan Amar mencapai sekitar Rp4,16 triliun, tumbuh lebih dari 30 persen year-on-year.
Laba bersih kuartal tersebut mencapai sekitar Rp71,12 miliar dan disebut sebagai laba kuartalan tertinggi bank saat itu.
Pada RUPST 2026, Amar juga membagikan dividen sekitar Rp110,1 miliar.
Ini menunjukkan bank sudah berada pada fase berbeda dari digital bank yang masih burning capital.
Ada profit.
Ada dividend.
Ada growth.
Tentu performance satu quarter tidak menjadi guarantee.
Bank tetap harus menjaga asset quality.
Loan growth yang cepat harus diiringi collection dan risk.
Tunaiku menyasar borrower yang underbanked.
Risk profile bisa lebih tinggi.
AI dan data membantu underwriting.
Tidak menghapus default.
Digital lending tetap lending.
Embedded banking menjadi strategy baru
Pada 2026, Amar makin menonjolkan embedded banking.
Product bank diintegrasikan ke platform partner.
Salah satu contoh yang disebut adalah MyMRTJ.
User bisa mengakses service banking dalam journey partner tanpa harus berpindah aplikasi secara penuh.
Amar menyebut model B2B2C ini sudah mendatangkan ribuan nasabah baru.
Ini evolution yang natural.
Tunaiku dulu direct-to-consumer.
Amar app direct banking.
Embedded banking membuat distribution menjadi partner-led.
Bank tidak harus membeli semua traffic.
Platform lain punya user.
Amar menyediakan financial rail.
Ini mirip Banking as a Service.
Bank tetap counterparty.
Partner menjadi channel.
Model ini bisa scale.
Tapi partner risk dan data governance harus ketat.
Semakin bank masuk ke platform orang lain, semakin penting consent dan clarity.
User harus tahu kapan mereka berinteraksi dengan bank.
Seamless tidak boleh invisible secara legal.
Amar juga masuk ke industri kreatif
Strategi 2026 bahkan menyebut ekspansi dukungan ke sektor industri kreatif.
Amar sebelumnya terlibat dengan JAFF Market dan film.
Ini mungkin terlihat jauh dari banking.
Actually, bisa dibaca sebagai sector strategy.
Creative industry punya cash flow yang unik.
Production.
Distribution.
Creator income.
Project-based revenue.
Traditional bank mungkin tidak selalu punya underwriting template yang pas.
Digital bank bisa mencoba membangun product lebih tailored.
Tentu sponsorship event bukan bukti lending strategy berhasil.
Tapi menunjukkan bank sedang mencari niche baru di luar personal loan tradisional.
Ini penting karena competition digital bank makin padat.
Semua bisa transfer.
Semua punya deposito.
Differentiation harus datang dari distribution atau segment expertise.
Amar punya legacy Tunaiku di underbanked.
Sekarang mereka mencoba embedded banking dan creative economy.
Arah itu masih berjalan pada 2026.
Status sampai Agustus 2026
Amar Bank masih aktif sebagai PT Bank Amar Indonesia Tbk dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode AMAR.
Badan hukumnya berasal dari PT Anglomas International Bank yang berdiri di Surabaya pada 15 Maret 1991.
Bank diluncurkan kembali sebagai Amar Bank pada 2015 setelah transformation di bawah Tolaram.
Tunaiku sudah diluncurkan sejak 2014 dan tetap menjadi engine digital lending penting.
Per 31 Maret 2026, Tolaram Pte Ltd memegang 75,25 persen saham dan tetap menjadi controlling shareholder.
PT Jagat Raya Imajinasi memegang 6,59 persen.
SBI Holdings 5,63 persen setelah masuk sebagai investor baru pada 2025.
Public shareholders memegang 10,53 persen, dengan treasury stock sekitar 2 persen.
Pada 2026, Amar masih mencatat pertumbuhan kredit, laba, pembagian dividen, serta expansion embedded banking.
Jadi Amar bukan startup lending yang berubah jadi bank.
Kebalikannya.
Bank lama berubah menjadi technology-driven lender, lalu berkembang menjadi digital bank yang lebih luas.
Dari Amin Bank di Surabaya.
Ke Tunaiku.
Ke cloud banking.
Ke embedded finance.
Satu badan hukum.
Tiga dekade lebih.
Dan transformasinya belum selesai.
Ada satu lesson lain dari Amar: digital transformation tidak harus dimulai dari deposit.
Amar justru lebih dulu dikenal lewat lending.
Tunaiku membangun use case dan customer relationship sebelum mobile banking Amar menjadi produk yang lebih matang.
Ini kebalikan dari banyak digital bank yang mulai dengan bunga tabungan tinggi untuk mengumpulkan dana, lalu mencari loan book.
Amar sudah punya lending engine sejak awal transformation.
Keuntungannya, bank memahami borrower segment lebih dulu.
Risikonya, credit quality menjadi sangat central.
Kalau underwriting salah, growth cepat berubah jadi problem.
Karena itu kemampuan analytics dan collection sama pentingnya dengan UI.
Digital lending yang berhasil bukan soal approval cepat.
Ia soal memilih borrower yang tepat, memberi limit yang sehat, dan menjaga repayment tanpa merusak customer relationship.
Relasi arsip dan jalur verifikasi
Untuk menempatkan Amar Bank di dalam struktur arsip, catatan ini terhubung ke metodologi Indonesian Entity Archive, Indeks Status Entitas, Archive Source Register, Kebijakan Koreksi dan Tinjauan Arsip, Entity Relationships.
Relasi arsip dan jalur verifikasi
- Business Archive
- Krom Bank 2026: Status Bank, Kepemilikan, dan Transformasi Digital di Indonesia
- Bank Saqu di Indonesia: Dari Transformasi Bisnis hingga Posisi Terbarunya pada 2026
- Apa yang Berubah di Bank Raya? Jejak Korporasi dan Status Perbankan Indonesia
- BCA Digital (blu): Sejarah Entitas, Perubahan Pemegang Saham, dan Status hingga 2026
- Indeks status entitas
- Register sumber
- Metodologi arsip
- Kebijakan koreksi
