Deliveree Masih Aktif? Status Layanan dan Posisi di Industri Pengiriman Indonesia

✦ INDONESIANENTITYARCHIVE.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM

Deliveree Masih Aktif? Status Layanan dan Posisi di Industri Pengiriman Indonesia

◆ FormatPost
↻ Diperbarui22 October 2026
◷ Waktu baca8 menit
✦ KonteksPanduan praktis

“Mas, butuh truk wingbox besok pagi.”

“Berapa ton?”

“Sekitar 12.”

“Rute?”

“Cikarang ke Semarang.”

“Balik kosong?”

“Kayaknya.”

Di dunia trucking, kata “balik kosong” adalah masalah ekonomi besar.

Truk yang bergerak tanpa muatan tetap membakar bahan bakar.

Driver tetap bekerja.

Tol tetap dibayar.

Asset tetap terpakai.

Tapi tidak ada revenue dari perjalanan kosong.

Deliveree dibangun untuk mengurangi inefficiency seperti itu.

Pada 2026, Deliveree masih sangat aktif di Indonesia.

Bahkan current site menunjukkan ekspansi area yang agresif.

Perusahaan memperluas operasi ke Sulawesi, Kalimantan, Kupang, dan Lombok pada 2025 setelah sebelumnya memperluas Jawa, Sumatra, Bali, Makassar, Balikpapan, Samarinda, dan Pontianak.

Nama legal Indonesia yang digunakan current adalah PT Angkut Teknologi Indonesia.

Situs 2026 juga menyebut platform memiliki lebih dari 35 ribu truk dalam network.

Angka tersebut berasal dari company material.

Yang penting untuk status entity:

Deliveree masih beroperasi.

Masih merekrut.

Masih onboarding driver.

Masih memperluas service.

Masih memperbarui content 2026.

Jadi pertanyaan “masih aktif?” bisa dijawab iya dengan confidence tinggi.

2015: diluncurkan di Indonesia dan Thailand

Deliveree didirikan pada 2015.

Official history menyebut peluncuran operation terjadi di Indonesia dengan fokus Jakarta Raya dan sekitarnya, serta di Thailand dengan fokus Bangkok.

Group leadership current menampilkan Tom Kim sebagai CEO dan co-founder serta Quan Nguyen sebagai CTO dan co-founder.

Perusahaan juga menjelaskan origin investasi dari Inspire Ventures dan Ardent Capital.

Deliveree punya model asset-light.

Mereka tidak harus memiliki semua truk.

Platform menghubungkan customer dengan vendor logistics dan mitra pengemudi.

Ini mirip marketplace.

Tapi barang yang diperdagangkan bukan produk.

Capacity.

Truk.

Ruang muatan.

Waktu.

Rute.

Ini membuat Deliveree bermain di segment yang berbeda dari parcel courier.

JNE, J&T, atau Ninja banyak menangani paket individual di network hub.

Deliveree lebih kuat di truckload dan cargo.

Customer bisa pesan kendaraan penuh.

Atau kirim muatan dalam model LCL sesuai layanan.

Jadi use case-nya lebih dekat ke distribution, industrial movement, relocation, dan B2B cargo.

PT Angkut Teknologi Indonesia adalah entity legal lokal

Current content Deliveree secara eksplisit menulis:

nama legal Deliveree adalah PT Angkut Teknologi Indonesia.

Ini membantu menghilangkan ambiguity.

Terms group bisa menggunakan istilah Deliveree Private Limited dan subsidiaries secara kolektif.

Tetapi untuk Indonesia, page legal dan current product content menyebut PT Angkut Teknologi Indonesia.

Jadi entity archive yang sehat menulis:

Brand: Deliveree.

Operator Indonesia: PT Angkut Teknologi Indonesia.

Group: Deliveree.

Didirikan: 2015.

Co-founder current yang ditampilkan: Tom Kim dan Quan Nguyen.

Country Manager Indonesia current yang tampil: Apoorvaa Agarwal.

Jangan campur local operator dengan group entity.

Dan jangan menganggap Deliveree memiliki semua kendaraan yang tampil di platform.

Modelnya menggunakan network vendor dan mitra pengemudi.

Asset-light justru central.

Kenapa asset-light menarik di trucking?

Trucking industry Indonesia sangat fragmented.

Ada perusahaan besar.

Ada transporter menengah.

Ada owner satu truk.

Ada driver yang punya akses ke unit.

Demand juga fragmented.

Manufacturer punya route.

Distributor punya shipment.

SME butuh pindahan.

Project punya kebutuhan sesekali.

Kalau semua pihak mencari lewat telepon, information gap besar.

Shipper tidak tahu truck available.

Truck owner tidak tahu muatan tersedia.

Broker masuk.

Price tidak transparent.

Waktu terbuang.

Platform seperti Deliveree mencoba digitize matching.

Customer input origin, destination, vehicle type, time.

System menemukan vendor.

Driver mendapat load.

Kalau matching lebih efisien, truck empty miles bisa turun.

Itu benefit terbesar.

Bukan cuma app lebih cantik.

Capacity utilization.

AI 2026 dipakai untuk mengurangi truk kosong

Official company profile 2026 sangat explicit soal AI dan data science.

Deliveree menyebut menggunakan data science dan generative AI untuk meningkatkan utilisasi kapasitas truk.

Logikanya simpel.

Kalau truck selesai delivery di Semarang, system bisa mencari load balik.

Kalau banyak demand ke arah tertentu, pricing dan matching bisa disesuaikan.

Kalau route pattern terbaca, truck allocation lebih efisien.

Ini AI yang sangat grounded.

Bukan chatbot customer support doang.

Kalau berhasil, AI menghasilkan uang lewat better utilization.

Driver dapat revenue lebih tinggi.

Customer dapat price lebih rendah.

Road network punya lebih sedikit empty movement.

Emisi berkurang.

Of course, klaim ini harus diuji operationally.

AI tidak otomatis mengisi semua backhaul.

Demand tidak selalu simetris.

Jakarta ke Surabaya bisa ramai.

Surabaya ke Jakarta belum tentu sama pada waktu yang sama.

Truck juga punya specification.

Barang tertentu butuh box.

Barang lain flatbed.

Weight beda.

Schedule beda.

Availability beda.

Matching problem sangat complex.

Itulah justru use case machine learning yang cocok.

Layanan utama current: FTL dan LCL

Situs 2026 menampilkan dua service besar.

Pesan Kendaraan atau FTL.

Kirim LCL.

FTL berarti customer menggunakan kendaraan penuh untuk shipment.

Ini cocok untuk barang besar, volume tinggi, atau business route.

LCL menggabungkan muatan yang lebih kecil.

Customer tidak perlu membayar satu truck penuh.

Secara economics:

FTL beli capacity dedicated.

LCL share capacity.

Sama seperti pesawat charter versus beli satu kursi.

Keduanya punya trade-off.

FTL lebih direct dan controllable.

LCL lebih cost efficient untuk volume kecil tapi bisa punya consolidation step.

Deliveree memperluas kedua model.

Pada 2023, company history menyebut expansion ke Sumatra dan peluncuran digital freight forwarding melalui jalur laut dengan SPIL.

Pada 2024, ekspansi ke Bali, Makassar, Balikpapan, Samarinda, dan Pontianak.

Pada 2025, Sulawesi, Kalimantan, Kupang, dan Lombok diperluas lagi.

Ini menunjukkan Deliveree tidak lagi sekadar “truck app Jakarta”.

Network-nya berubah ke national cargo marketplace.

Series C 70 juta dolar menjadi milestone

Pada 2022, Deliveree menyelesaikan Series C sebesar 70 juta dolar AS yang dipimpin SPIL Ventures dan Gobi Partners.

Pendanaan ini penting karena logistics expansion butuh capital meski model asset-light.

Technology.

Operations.

driver acquisition.

enterprise sales.

customer support.

regional expansion.

insurance.

integration.

Semua butuh investment.

SPIL Ventures juga strategic karena SPIL adalah pemain shipping dan logistics.

Kemudian Deliveree meluncurkan digital freight forwarding jalur laut bersama Salam Pacific Indonesia Lines.

Ini menunjukkan investor bukan cuma uang.

Strategic network bisa masuk product.

Trucking bertemu shipping.

Road freight bertemu sea freight.

Platform mulai bergerak ke multimodal logistics.

Kalau software bisa orchestrate truck dan kapal, customer punya door-to-door workflow lebih terintegrasi.

2026: service area makin nasional

Current website Juli 2026 menyebut Deliveree sedang dalam mode ekspansi di Indonesia.

Driver recruitment juga aktif untuk berbagai kelas kendaraan.

Job listing current masih ada.

Content update Juni dan Juli 2026 aktif.

Business account tersedia.

Real-time tracking.

Advanced analytics.

Insurance.

Multiple user.

SOP khusus bisnis.

API.

Semua menunjukkan perusahaan masih operating, bukan maintenance mode.

Deliveree juga mempublikasikan metric current di page utama.

Jumlah bisa berubah dan definisinya perlu dilihat hati-hati.

Tapi update date July 2026 memperkuat status current.

Ini penting karena startup logistics sering mengalami shutdown di region tertentu.

Deliveree bukan case itu pada 2026 Indonesia.

Justru expansion masih terlihat.

Perusahaan atau marketplace?

Jawabannya dua-duanya, tergantung layer.

Deliveree adalah logistics company pada experience customer.

Ia mengelola procurement, provisioning, management, dan execution transport melalui vendor.

Tapi architecture-nya marketplace.

Customer demand dikumpulkan.

Vendor supply dikumpulkan.

Platform mengatur matching.

Terms menjelaskan Deliveree bekerja dengan logistics vendors.

Jadi kalau kita bilang “Deliveree punya 35 ribu truk”, wording harus hati-hati.

Lebih aman:

platform Deliveree mencakup network puluhan ribu truk atau akses ke puluhan ribu truck.

Bukan berarti semuanya asset di balance sheet Deliveree.

Ini distinction besar.

Asset-light company bisa punya huge operational network tanpa memiliki semua asset.

Itu salah satu alasan tech logistics bisa scale lebih cepat.

Tapi control challenge juga lebih besar.

Quality vendor harus managed.

Driver training.

vehicle condition.

insurance.

SOP.

on-time performance.

claim.

Semua harus di-standardize di ecosystem yang bukan sepenuhnya employee-owned.

B2B logistics tidak memaafkan keterlambatan dengan mudah

Parcel consumer telat satu hari bisa bikin kesal.

Industrial freight telat satu hari bisa menghentikan produksi.

Bayangkan pabrik menunggu komponen.

Truck telat.

Line production berhenti.

Cost per jam bisa besar.

Itu membuat B2B cargo punya SLA pressure tinggi.

Deliveree menawarkan program bisnis dengan insurance, SOP custom, dashboard, multi-user, dan postpaid billing.

Fitur ini bukan kosmetik.

Enterprise butuh control.

Finance tidak mau reimburse driver satu per satu.

Operations ingin shipment visible.

Management ingin report.

Risk team ingin insurance.

Warehouse butuh driver datang sesuai slot.

Technology harus masuk ke workflow.

Bukan hanya booking.

Ini yang membedakan consumer delivery app dengan logistics operating platform.

Driver juga butuh muatan yang lebih konsisten

Dari sisi transporter, problem berbeda.

Truck adalah asset mahal.

Kalau parkir, tidak menghasilkan.

Kalau kosong, tetap cost.

Platform menawarkan akses ke demand.

Current Deliveree masih actively recruiting driver dan transporter.

Jenis vehicle sangat luas:

city car.

van.

pickup.

CDE.

CDD.

Fuso.

Tronton.

Wingbox.

Setiap class punya economics berbeda.

Truck owner tidak perlu membangun sales team besar kalau platform bisa memberi load.

Tapi ia juga harus menerima platform rule, service fee structure, rating, compliance, dan competition.

Marketplace selalu punya dua sisi.

Customer ingin price murah.

Vendor ingin income tinggi.

Platform hidup di tengah.

Kalau terlalu memihak customer, driver pergi.

Kalau terlalu mahal untuk customer, demand turun.

Balance menjadi core business.

Apa posisi Deliveree di 2026?

Bukan parcel courier mass-market.

Bukan traditional trucking broker.

Bukan pure software SaaS.

Lebih tepat:

digital freight and trucking marketplace yang mengelola transport procurement dan execution untuk bisnis serta individual, dengan fokus FTL, LCL, dan multimodal cargo.

Posisi ini makin relevan ketika supply chain Indonesia ingin lebih transparent.

Trucking historically punya banyak telephone-based coordination.

WhatsApp.

Paper.

Broker.

Manual invoice.

Digital platform mencoba membuat price, tracking, billing, dan capacity lebih visible.

Tidak berarti legacy process langsung hilang.

Industry berubah pelan.

Truck driver tetap di jalan.

Warehouse tetap fisik.

Dokumen tetap ada.

Tapi digital layer makin kuat.

Kembali ke shipment Cikarang ke Semarang tadi.

Planner membuka Deliveree.

Pilih wingbox.

Schedule besok.

Harga muncul.

Driver assigned.

Goods pickup.

Tracking.

POD.

Besok truck unload.

Kalau system bagus, semua terasa boring.

Itu justru ideal.

Logistics terbaik sering tidak punya drama.

Barang datang.

Invoice match.

Tidak ada meeting emergency.

Pada 2026, PT Angkut Teknologi Indonesia masih menjalankan Deliveree dengan ekspansi geografis dan teknologi yang jelas aktif.

Perusahaan bahkan mendorong AI untuk problem yang sangat nyata:

jangan biarkan truck jalan kosong kalau seharusnya ada muatan.

Simple sentence.

Massive industry problem.

Dan selama inefficiency itu masih ada, platform seperti Deliveree masih punya alasan kuat untuk hidup.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Untuk menempatkan Deliveree Masih Aktif? Status Layanan dan Posisi di Industri Pengiriman Indonesia di dalam struktur arsip, catatan ini terhubung ke metodologi Indonesian Entity Archive, Indeks Status Entitas, Archive Source Register, Kebijakan Koreksi dan Tinjauan Arsip, Entity Relationships.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Scroll to Top