Mekari: Sejarah Startup B2B Indonesia, Produk, dan Status hingga 2026
“Jadi kita pakai tiga software, terus invoice-nya tiga juga?”
Bayangkan pertanyaan itu muncul di ruang meeting kecil sebuah perusahaan yang sedang tumbuh. Di layar ada spreadsheet payroll, tab akuntansi, CRM, dan satu dokumen berisi daftar vendor. Raka dari finance ingin angka rapi. Dita dari HR cuma ingin payroll bulan ini tidak berubah jadi sinetron. Bima, owner-nya, melihat semuanya dengan ekspresi orang yang baru sadar bahwa digitalisasi kadang justru membuat meja kerja punya lebih banyak dashboard.
“Katanya software bikin simpel.”
“Iya,” jawab Dita. “Kalau software-nya nggak bikin kita meeting soal software.”
Situasinya ilustratif, bukan kisah klien tertentu. Tetapi problem-nya sangat B2B Indonesia: ketika sebuah perusahaan tumbuh, kebutuhan operasional yang awalnya terpisah mulai saling tabrak. HR punya data karyawan. Finance punya transaksi. Sales punya pelanggan. Pajak punya kalender sendiri yang biasanya datang tanpa rasa bersalah.
Di titik itulah sejarah Mekari jadi menarik. Bukan cuma karena ia tumbuh menjadi salah satu nama besar SaaS bisnis Indonesia, tetapi karena asal-usulnya sendiri datang dari problem integrasi dan konsolidasi.
Pada 2015, Talenta, Sleekr, dan Jurnal masih berdiri sebagai pemain SaaS dengan entitas perusahaan yang berbeda. Talenta bergerak di HR, Sleekr juga membangun solusi HR berbasis cloud, sedangkan Jurnal fokus pada akuntansi dan pembukuan bisnis. Mereka hidup di fase ketika software cloud lokal belum se-normal sekarang.
Hari ini, orang bisa bilang “pakai SaaS” tanpa perlu menjelaskan apa itu cloud. Pada pertengahan 2010-an, ceritanya beda. Banyak perusahaan masih nyaman dengan Excel, file lokal, proses manual, dan sistem yang hanya dipahami satu orang senior yang kalau cuti satu kantor langsung gelisah.
Mekari lahir dari fase itu.
Dari kompetitor menjadi satu ekosistem
Jejak publik perusahaan menempatkan 2018 sebagai tahun ketika Talenta, Sleekr, dan Jurnal bergabung membentuk entitas baru bernama Mekari. Dalam pemberitaan saat itu, prosesnya terlihat bukan sebagai satu tombol merger yang ditekan dalam semalam, melainkan rangkaian konsolidasi dan transaksi M&A yang berjalan bertahap.
Salah satu episode penting terjadi ketika Sleekr mengumumkan akuisisi Talenta pada Mei 2018. Keduanya sama-sama bermain di software HR. Secara teori mereka kompetitor. Secara praktik, mereka melihat tantangan yang sama: software bisnis B2B adalah permainan panjang.
Ini bagian yang sering hilang kalau sejarah startup cuma ditulis sebagai timeline pendanaan.
Di bisnis consumer, orang bisa pindah aplikasi karena promo. Di software HR, accounting, atau payroll, migrasi berarti data, proses, SOP, training, dan risiko. Kalau ada error di aplikasi foto, orang kesal. Kalau ada error payroll, grup kantor bisa langsung berubah suhu.
Karena itu, konsolidasi Mekari punya logika yang lebih dalam daripada sekadar “startup A beli startup B”. Mereka sedang membangun cakupan operasional yang lebih luas.
Pada 2019, nama Mekari makin resmi muncul ke publik sebagai hasil konsolidasi Sleekr dengan Talenta, Jurnal, dan Klikpajak. Suwandi Soh, yang sebelumnya dikenal sebagai CEO Sleekr, menjadi CEO Mekari. Daniel Witono dari Jurnal masuk sebagai Chief Product Officer, sedangkan Anthony Kosasih dari Jurnal menjadi Chief Operating Officer.
Strukturnya sendiri menunjukkan sesuatu: yang digabung bukan cuma logo.
Ada orang, produk, tim, pengetahuan domain, basis pengguna, dan cara kerja yang ikut dipertemukan.
Kalau dibikin versi ruang meeting:
“Produk mana yang menang?”
Pertanyaan itu terdengar logis, tapi sebenarnya kurang tepat.
Yang lebih relevan: fungsi apa yang harus tetap hidup, brand mana yang masih punya equity kuat, dan bagaimana semuanya masuk ke cerita perusahaan yang lebih besar.
Dan itu menjelaskan kenapa beberapa nama lama tidak hilang. Talenta tetap menjadi brand HR. Jurnal tetap kuat sebagai brand accounting. Mereka bukan dibuang karena Mekari lahir. Mereka justru menjadi bagian dari arsitektur Mekari.
Mekari bukan satu aplikasi
Sampai 2026, situs resmi Mekari memosisikan perusahaan sebagai ekosistem software terpadu. Ini penting untuk entity disambiguation.
Mekari bukan nama baru untuk satu produk lama.
Mekari adalah payung perusahaan dan ekosistem yang menaungi berbagai solusi bisnis. Di dalamnya ada Mekari Talenta untuk HR dan payroll, Mekari Jurnal untuk akuntansi dan operasional, Mekari Qontak untuk CRM dan customer engagement, Mekari Klikpajak untuk perpajakan, Mekari Sign untuk tanda tangan dan otorisasi dokumen, Mekari Expense untuk pengeluaran, Mekari Flex untuk benefit karyawan, serta solusi lain seperti Mekari Pay, Mekari Capital, Mekari Officeless, dan lini yang terus berkembang.
Pada 2021, Qontak bergabung ke ekosistem Mekari. Qontak membawa area CRM dan omnichannel.
Pada 2024, Mekari mengumumkan akuisisi Jojonomic, perusahaan yang mengembangkan platform no-code dan low-code. Produk dan kapabilitasnya kemudian terkait dengan perluasan solusi Officeless.
Pada Agustus 2025, Mekari mengumumkan akuisisi Desty, platform omnichannel commerce. Langkah ini memperluas jejak Mekari ke pengelolaan penjualan lintas kanal dan commerce.
Jadi kalau seseorang terakhir mengikuti Mekari pada 2019 lalu membuka situsnya lagi pada 2026, rasanya seperti kembali ke kompleks ruko yang dulu cuma tiga pintu, sekarang sudah jadi kawasan.
Bukan semua pintunya harus dipakai.
Tetapi pilihan use case-nya jauh lebih banyak.
Lalu datang AI
Di kantor ilustratif tadi, Raka masih memandangi dashboard.
“Sekarang semua software ada AI-nya, ya?”
Bima mengangkat alis. “Yang penting jangan AI buat bikin nama fitur doang.”
Komentar seperti itu cukup relate dengan 2026. Setelah beberapa tahun semua produk teknologi berlomba memasang label AI, pembeli bisnis mulai jauh lebih kritis. Pertanyaannya bergeser dari “ada AI?” menjadi “AI-nya ngerjain apa?”
Mekari memasukkan AI lewat Mekari Airene dan dukungan AI di beberapa produk. Materi resminya menjelaskan Airene sebagai solusi AI yang dapat digunakan untuk analisis data dan akses informasi di produk seperti Talenta, Qontak, dan Jurnal. Mekari menyebut dukungan OpenAI dalam implementasi Airene.
Di sisi produk, AI juga muncul pada customer engagement, intelligent reporting, automation, dan analisis.
Ini cukup natural untuk arah perusahaan. Mekari sejak awal bermain di data operasional bisnis. HR punya data tenaga kerja. Jurnal punya data keuangan. Qontak punya data interaksi pelanggan. Kalau data-data tersebut makin terstruktur dan terhubung, lapisan AI punya lebih banyak konteks untuk bekerja.
Tetapi ada catatan penting. Ekosistem terintegrasi tidak otomatis berarti semua data dari semua produk bercampur bebas. Implementasi enterprise selalu bergantung pada produk yang dipakai, izin akses, konfigurasi, kontrak, kebijakan keamanan, dan arsitektur masing-masing.
Jadi narasi “satu ekosistem” sebaiknya dibaca sebagai integrasi bisnis yang ditawarkan, bukan izin untuk menganggap setiap modul memiliki akses tanpa batas.
Siapa pemilik dan operator Mekari?
Untuk status entity pada 2026, situs Mekari menyebut PT Mid Solusi Nusantara dalam footer dan dokumen layanan sebagai badan yang menyediakan sejumlah produk di dalam platform Mekari. Pada Talenta, misalnya, persyaratan penggunaan menyebut PT Mid Solusi Nusantara sebagai penyedia layanan.
Sementara itu, Jurnal punya sejarah dan konteks legal yang sedikit berbeda. Situs Jurnal masih menyebut PT Jurnal Consulting Indonesia dalam penjelasan perusahaan dan keamanan. Ini alasan kenapa arsip entity tidak boleh menyederhanakan semua brand menjadi satu badan hukum tanpa melihat dokumen layanan masing-masing.
Secara brand dan ekosistem, Mekari adalah payung yang jelas.
Secara legal-operasional, nama badan usaha yang muncul dapat bergantung pada produk dan dokumen yang sedang dibaca.
Perbedaan kecil seperti ini justru penting kalau tujuan kita bukan bikin copy marketing, melainkan arsip yang tahan lama.
Status operasional sampai 2026
Mekari jelas masih aktif pada 2026.
Situs perusahaan berjalan, halaman produk terus diperbarui, support center aktif, dan portofolio produk bertambah. Halaman perusahaan saat ini menyebut lebih dari 55 ribu pelanggan dan lebih dari 3 juta pengguna aplikasi. Angka tersebut merupakan klaim perusahaan sendiri dan bisa berubah seiring waktu, jadi sebaiknya dibaca sebagai snapshot yang dinyatakan Mekari, bukan data audit independen.
Jejak fisik yang dicantumkan perusahaan juga tidak hanya Jakarta. Mekari menampilkan alamat operasional di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan.
Tetapi indikator yang lebih menarik bukan jumlah kota.
Yang lebih menarik adalah perubahan cara Mekari mendefinisikan dirinya.
Awalnya ada produk-produk spesifik yang menyelesaikan masalah spesifik. HR. Akuntansi. Pajak.
Sekarang bahasa yang dipakai makin mengarah ke unified software ecosystem, integrasi, automation, AI-powered reporting, commerce, expense, financing, document authorization, dan aplikasi kustom.
Itu bukan rebrand kosmetik. Itu perubahan kategori.
Dari kumpulan SaaS menjadi business operating layer
Kalau 2015 adalah era “bisakah perusahaan Indonesia mau menggunakan software cloud?”, maka 2026 problem-nya sudah naik kelas.
Sekarang bukan cuma soal adopsi.
Perusahaan punya terlalu banyak tools.
Dita punya HRIS. Raka punya finance system. Sales punya CRM. Customer service punya omnichannel. Bos punya dashboard yang kalau terlalu banyak malah berubah jadi wallpaper.
Pertanyaan B2B hari ini: bagaimana semua sistem ini tidak menjadi pulau?
Itulah posisi yang sedang dikejar Mekari.
Tidak semua perusahaan perlu seluruh produknya. UMKM kecil mungkin hanya butuh pembukuan. Perusahaan dengan ratusan karyawan mungkin mulai dari HR dan payroll. Tim sales yang hidup di WhatsApp bisa melihat Qontak lebih dulu. Perusahaan yang kompleks mungkin baru merasakan value ekosistem ketika beberapa fungsi dihubungkan.
Dalam bahasa sederhana, Mekari bukan lagi cerita tentang satu startup HR yang sukses rebrand.
Ia adalah cerita tentang konsolidasi software lokal yang pelan-pelan membentuk operating stack untuk bisnis Indonesia.
Sleekr menjadi bagian dari sejarah. Talenta tetap hidup sebagai produk HR. Jurnal tetap menjadi identitas accounting yang kuat. Qontak masuk membawa customer engagement. Produk baru dan akuisisi terus memperlebar perimeter.
Nama-namanya punya jalur sendiri, tetapi continuity-nya bertemu di Mekari.
Di akhir meeting ilustratif tadi, Bima menutup laptop.
“Jadi kita harus ganti semua?”
Raka cepat menjawab, “Nggak juga.”
Dita mengangguk. “Mulai dari yang paling bikin ribet dulu.”
Itu mungkin cara paling masuk akal membaca Mekari pada 2026.
Bukan sebagai katalog software yang harus diborong.
Tetapi sebagai hasil satu dekade eksperimen SaaS Indonesia: mulai dari masalah administratif yang kelihatannya receh, berkembang lewat kompetisi dan konsolidasi, lalu bergerak menuju ekosistem operasional yang mencoba membuat lebih banyak bagian bisnis saling nyambung.
Dan buat sebuah perusahaan B2B, kadang “saling nyambung” memang lebih berharga daripada punya dashboard paling banyak.
Relasi arsip dan jalur verifikasi
Untuk menempatkan Mekari di dalam struktur arsip, catatan ini terhubung ke metodologi Indonesian Entity Archive, Indeks Status Entitas, Archive Source Register, Kebijakan Koreksi dan Tinjauan Arsip, Entity Relationships.
Relasi arsip dan jalur verifikasi
- Startup Archive
- Jurnal 2026: Status Operasional, Kepemilikan, dan Evolusi Produk Bisnis
- Bagaimana Talenta Berkembang? Jejak SaaS Indonesia dan Perubahan Entitasnya
- Qontak di Indonesia: Arsip Platform Bisnis Digital dan Status Terbaru
- Sleekr: Sejarah Startup B2B Indonesia, Produk, dan Status hingga 2026
- Indeks status entitas
- Register sumber
- Metodologi arsip
- Kebijakan koreksi
