Fore Coffee Masih Aktif? Arsip Entitas Food-tech Indonesia dan Model Bisnisnya

✦ INDONESIANENTITYARCHIVE.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM

Fore Coffee Masih Aktif? Arsip Entitas Food-tech Indonesia dan Model Bisnisnya

◆ FormatPost
↻ Diperbarui15 October 2026
◷ Waktu baca8 menit
✦ KonteksPanduan praktis

Kalau seseorang terakhir mengikuti Fore Coffee pada 2019, gambarnya mungkin sederhana.

Startup kopi.

Aplikasi.

Grab-and-go.

Cup hijau.

Mall.

Kantor.

Investor teknologi.

Lalu lompat ke Agustus 2026.

Fore Coffee bukan lagi sekadar startup private yang sedang bereksperimen dengan digital coffee chain.

PT Fore Kopi Indonesia Tbk sudah menjadi perusahaan terbuka.

Sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode FORE sejak April 2025.

Perusahaan sekarang mengelola Fore Coffee dan Fore Donut.

Pada semester pertama 2026, grup menyebut punya 377 store aktif yang terdiri dari 363 Fore Coffee Indonesia, 10 Fore Donut, dan 4 Fore Coffee Singapore.

Pendapatan semester pertama 2026 menembus Rp1 triliun menurut laporan perusahaan, naik 52 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.

EBITDA dan laba bersih juga tumbuh.

Jadi judul “Fore Coffee masih aktif?” pada 2026 sebenarnya terlalu ringan.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

bagaimana brand kopi yang lahir dengan DNA startup bisa berubah menjadi emiten F&B yang harus menjawab investor publik setiap kuartal?

Karena setelah IPO, permainan berubah.

Customer tetap membeli kopi.

Tapi perusahaan sekarang juga harus menjual satu hal lain:

kepercayaan pasar modal.

2018: kopi bertemu startup logic

Fore Coffee berdiri pada 2018.

Nama “Fore” datang dari forest.

Brand dibangun dengan visual modern, technology-driven ordering, dan positioning premium affordable.

Ini bukan warung kopi tradisional.

Bukan juga luxury coffee shop dengan satu outlet besar.

Modelnya dibuat untuk scale.

Menu relatif standardized.

Store format bisa disesuaikan.

Aplikasi membantu ordering.

Customer data bisa dikumpulkan.

Cashless.

Pickup.

Delivery.

Loyalty.

Semua elemen yang sudah normal pada 2026 terasa lebih novel saat Fore mulai tumbuh.

Bayangkan Adi, pekerja kantor ilustratif di Sudirman pada 2019.

Pukul 08.20.

Ia masuk lift.

Meeting 09.00.

Antrian kopi panjang.

Kalau pesan dari app dan tinggal ambil, lima menit hidup kembali.

Simple.

Fore tidak menjual technology.

Fore menjual waktu dan consistency.

App hanya mechanism.

Kopi tetap harus enak.

Barista tetap harus cepat.

Store tetap harus berfungsi.

Technology baru berguna kalau friction turun.

Itulah salah satu alasan Fore bisa terasa seperti startup tanpa kehilangan produk F&B yang sangat basic.

Aplikasi tidak menggantikan kopi.

Aplikasi menggantikan antre.

Scale datang cepat

Fore tumbuh dari puluhan outlet menjadi ratusan.

Pada akhir 2022, perusahaan menyebut 123 outlet.

Akhir 2023 sekitar 172.

September 2024 sekitar 217.

Akhir 2025, company-owned Fore Coffee Indonesia mencapai 316 outlet menurut laporan tahunan.

Angka ini penting karena seluruh store Indonesia pada saat itu dimiliki perusahaan, bukan jaringan franchise individual.

Pada Juli 2026, Fore bahkan secara resmi mengingatkan publik bahwa Fore Coffee saat ini tidak menawarkan franchise atau partnership outlet dan belum menunjuk pihak ketiga untuk menjual franchise.

Ini detail yang sangat relevan.

Banyak brand F&B Indonesia scale dengan franchise.

Fore mengambil route company-owned.

Keuntungannya:

control lebih besar.

Quality lebih consistent.

Store economics bisa dipantau langsung.

Customer experience tidak tergantung franchisee.

Kekurangannya:

capital requirement besar.

Setiap outlet baru butuh investasi company.

Lease.

Renovation.

Equipment.

Staff.

Working capital.

Kalau salah pilih lokasi, loss milik company.

Franchise membagi risk ke partner.

Company-owned menyimpan control dan risk sekaligus.

Fore memilih control.

Ini business decision yang semakin penting setelah IPO karena investor bisa melihat return on invested capital.

Brand tidak cukup populer.

Setiap outlet harus menghasilkan economics.

Series of private funding berubah menjadi IPO

Sebelum public listing, Fore adalah venture-backed company.

East Ventures menjadi salah satu investor awal penting.

Perusahaan juga berhubungan dengan ecosystem Otten Coffee dan investor lain dalam perjalanan pertumbuhannya.

Seperti banyak startup, private funding membantu company scale sebelum cash flow internal cukup untuk membiayai seluruh expansion.

Tapi private capital punya limit.

IPO memberi source capital baru.

Maret 2025, Fore mengumumkan rencana penawaran umum perdana.

April 2025, company resmi melantai di BEI.

IPO mengumpulkan lebih dari Rp353 miliar secara gross, dengan net proceeds lebih dari Rp337 miliar menurut communication perusahaan.

Dana tersebut direncanakan antara lain untuk membangun hingga 140 outlet baru Fore Coffee, 30 outlet Fore Donut, dan working capital.

Perhatikan kata “direncanakan”.

Rencana bukan hasil.

Tetapi pada 2025 dan semester pertama 2026, expansion memang terlihat.

Lebih dari 90 store baru dibuka pada 2025.

Lebih dari 40 Fore Coffee outlet baru ditambahkan pada semester pertama 2026.

Jadi investor publik bisa melihat capital deployment cukup cepat.

IPO mengubah accountability

Saat startup private rugi, financial detail biasanya tidak diketahui publik.

Investor tertentu tahu.

Founder tahu.

Board tahu.

Consumer tidak.

Setelah listing:

revenue public.

profit public.

outlet number public.

RUPS public.

prospectus public.

management discussion public.

Market mengawasi.

Ini sebenarnya transformation organisasi yang lebih besar daripada sekadar ticker symbol.

Fore sekarang harus hidup dengan quarterly rhythm.

Laporan 1Q.

1H.

9M.

FY.

Public expose.

Analyst question.

Investor relation.

Customer masih bertanya:

“Promo apa?”

Investor bertanya:

“Same-store sales bagaimana?”

“Margin?”

“Capex?”

“Store expansion?”

“Cash conversion?”

Dua audience.

Satu company.

Dan tension antara growth dan profitability jadi lebih visible.

Perusahaan tidak bisa hanya membuka store banyak.

Harus menunjukkan growth yang disciplined.

1H26 menjadi snapshot penting

Pada 20 Juli 2026, Fore mengumumkan hasil semester pertama.

Revenue disebut mencapai sekitar Rp1 triliun, naik 52 persen YoY.

EBITDA sekitar Rp216 miliar, naik 65 persen.

Laba bersih sekitar Rp56,5 miliar, naik 34 persen.

Total active stores level group mencapai 377.

Fore Coffee Indonesia punya 363 store.

Fore Donut 10.

Fore Coffee Singapore 4.

Lebih dari 40 outlet Fore Coffee baru dibuka selama enam bulan pertama.

Lebih dari 40 persen store baru berada di kota tier dua dan tier tiga menurut company.

Angka ini company-reported financial result dan sebagian laporan unaudited semester pertama.

Tetapi dibanding startup lain dalam handoff ini, Fore punya level disclosure jauh lebih tinggi karena public company.

Kita tidak perlu menebak profitability.

Ada angka.

Ini salah satu konsekuensi listing yang berguna untuk archive.

Entity transparency naik.

Fore bukan hanya coffee brand.

Ia database public.

Fore Donut mengubah company menjadi F&B group

September 2025, Fore meluncurkan Fore Donut.

Awalnya dua outlet.

Semester pertama 2026 sudah menjadi 10 store.

Brand mendapat sertifikasi halal pada Juli 2026.

Expansion direncanakan ke bandara Soekarno-Hatta dan Bandung setelah presence awal termasuk Surabaya.

Kenapa masuk donut?

Customer occasion.

Average basket.

Cross-sell.

Breakfast.

Snack.

Non-coffee revenue.

Retail footprint.

Coffee chain global juga sering mendapat economics besar dari food.

Minuman punya margin bagus.

Food memperbesar basket.

Fore Donut memungkinkan company memiliki second growth engine.

Tapi product extension tidak automatically work.

Coffee customer belum tentu donut customer.

Kitchen supply chain berbeda.

Shelf life berbeda.

Production system berbeda.

Packaging.

Quality.

Waste.

Store format.

Brand identity.

Fore harus membuktikan donut bukan sekadar side project setelah IPO.

Pada 2026 company sudah menyebut dirinya leading F&B group yang mengelola Fore Coffee dan Fore Donut.

Bahasa korporatnya berubah.

Dulu coffee startup.

Sekarang F&B group.

Ini entity evolution yang nyata.

Singapore membuat Fore punya international layer

Fore masuk Singapura pada 2023 melalui outlet Bugis Junction.

Pada semester pertama 2026 ada empat outlet aktif di Singapura.

Angkanya kecil dibanding Indonesia.

Tetapi strategic significance cukup besar.

Brand Indonesia masuk market yang competitive.

Singapore punya high rent.

High labor cost.

Mature coffee culture.

Global chains.

Local specialty coffee.

Kalau format bekerja di sana, company mendapat learning untuk international expansion.

Tapi jangan overstate.

Empat store bukan bukti Fore sudah menjadi regional giant.

Itu experiment yang sudah punya continuity.

Indonesia tetap core.

363 Fore Coffee store Indonesia versus empat Singapore.

Scale relationship sangat jelas.

International story masih early.

Premium affordable adalah posisi yang sulit tapi powerful

Fore menyebut positioning “premium affordable”.

Dua kata yang technically tension.

Premium ingin kualitas tinggi.

Affordable ingin price accessible.

Kalau terlalu mahal, mass market hilang.

Kalau terlalu murah, margin tertekan dan premium perception turun.

Fore harus menjaga middle.

Beans.

Milk.

Palm sugar.

Store.

Packaging.

Labor.

Technology.

Semua cost naik.

Customer juga sensitif.

Coffee market Indonesia crowded.

Kopi Kenangan.

Janji Jiwa.

Tomoro.

Point Coffee.

Starbucks.

Kopi tuku-type local brands.

Independent cafe.

Office coffee machine.

Sachet.

Fore tidak hanya bersaing dengan coffee chain.

Ia bersaing dengan caffeine option.

Positioning premium affordable mencoba membuat customer repeat.

Bukan special occasion.

Daily habit.

Ini reason app dan loyalty penting.

Recurring consumption adalah gold.

Kalau customer beli tiga kali seminggu, lifetime value besar.

Kalau hanya datang saat promo, brand economics lemah.

Technology membantu melihat difference.

No franchise juga menjaga control atas price dan experience.

Fore Coffee bukan lagi startup dalam arti sempit

Apakah Fore masih startup?

Depends definition.

Company didirikan delapan tahun lalu.

Masih growth-oriented.

Technology enabled.

Tapi sudah listed public company.

Ratusan store.

Revenue tahunan 2025 sekitar Rp1,5 triliun menurut laporan perusahaan.

Net profit 2025 Rp90,1 miliar.

Governance public.

Calling it startup forever feels inaccurate.

Lebih tepat:

Fore lahir sebagai technology-enabled F&B startup dan sekarang berkembang menjadi public F&B company.

History startup-nya masih penting.

Current entity status-nya sudah berubah.

Ini sama seperti company teknologi yang akhirnya IPO.

Founder story tetap.

Corporate category evolve.

Archive harus mengikuti phase.

Kalau article 2026 menulis Fore “startup kopi yang baru ekspansi”, stale.

Company sekarang harus dibaca sebagai listed operator.

Status Fore Coffee pada Agustus 2026

Fore Coffee sangat aktif.

PT Fore Kopi Indonesia Tbk resmi listed di Bursa Efek Indonesia sejak April 2025 dengan ticker FORE.

Fore mengelola Fore Coffee dan Fore Donut.

Pada semester pertama 2026, group melaporkan 377 active stores, termasuk 363 Fore Coffee Indonesia, 10 Fore Donut, dan 4 Fore Coffee Singapore.

Revenue semester pertama mencapai sekitar Rp1 triliun menurut company report.

Website dan investor-relations page aktif.

Terms aplikasi diperbarui Juni 2026.

Company bahkan mengeluarkan public warning Juli 2026 bahwa Fore Coffee tidak menawarkan franchise.

Tidak ada ambiguity soal operation.

Pertanyaan lebih menarik justru next chapter.

Apakah expansion 100 outlet per tahun bisa dijaga tanpa mengorbankan margin?

Apakah Fore Donut menjadi second brand besar?

Apakah Singapore berkembang?

Apakah investor publik tetap sabar jika growth melambat?

Itu belum bisa dijawab.

Future.

Archive berhenti di sekarang.

Adi dari awal cerita mungkin tidak tahu Fore sudah IPO.

Dia cuma tetap pesan Aren Latte.

Pukul 08.20.

Klik.

Ambil.

Masuk meeting.

Itulah paradox public company consumer brand.

Di belakang satu cup ada ticker, prospectus, capex, EBITDA, dan public shareholders.

Di depan customer cuma ada satu pertanyaan:

kopinya masih enak nggak?

Selama jawabannya iya dan economics outlet masuk, dua dunia itu bisa berjalan bersama.

Pada 2026, Fore Coffee sedang membuktikan apakah startup coffee chain bisa benar-benar tumbuh menjadi institution.

Bukan hanya viral.

Bukan hanya funded.

Tapi public, profitable, dan repeatable.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Untuk menempatkan Fore Coffee Masih Aktif? Arsip Entitas Food-tech Indonesia dan Model Bisnisnya di dalam struktur arsip, catatan ini terhubung ke metodologi Indonesian Entity Archive, Indeks Status Entitas, Archive Source Register, Kebijakan Koreksi dan Tinjauan Arsip, Entity Relationships.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Scroll to Top