Haus! 2026: Status Operasional dan Jejak Bisnis Food-tech Indonesia
Di industri minuman kekinian, challenge paling brutal bukan membuat menu baru.
Challenge-nya adalah tetap relevan setelah tren menu lama selesai.
Boba pernah meledak.
Brown sugar.
Cheese tea.
Dalgona.
Matcha.
Kopi susu.
Fruit tea.
Setiap beberapa bulan ada rasa baru yang bikin TikTok ramai.
Lalu seminggu kemudian orang pindah.
Haus! masuk ke industri ini sejak 2018 dengan positioning yang sangat sederhana:
minuman enak dengan harga terjangkau.
Slogannya bahkan direct:
Semua Berhak Minum Enak.
Pada Agustus 2026, Haus! masih aktif.
Website resmi berjalan.
Store locator menampilkan jaringan luas di berbagai kota.
App Store menyebut lebih dari 200 store.
Google Play menunjukkan aplikasi Haus! diperbarui pada 28 Januari 2026.
PT Inspirasi Bisnis Nusantara tercantum sebagai developer sekaligus badan usaha brand.
Haus! juga tidak lagi hanya menjual minuman.
Ada Ganjel Roti.
Pedes Cyin.
Hot Oppa.
Ada Haus Party untuk kebutuhan acara.
Ada app sendiri untuk delivery, pickup, dan dine-in ordering.
Jadi kalau pertanyaannya apakah Haus! masih hidup setelah hype minuman kekinian era 2018 sampai 2021:
iya.
Dan justru longevity-nya lebih menarik daripada satu menu viral.
2018: target market-nya bukan premium coffee crowd
Haus! didirikan pada Juni 2018.
Gufron Syarif dikenal sebagai founder dan CEO dalam perjalanan awal company.
Brand ini menyasar segmen mass market.
Harga affordable.
Menu familiar.
Teh.
Cokelat.
Kopi.
Yakult-type beverage.
Topping.
Minuman manis yang gampang dibeli berulang.
Ini bukan positioning specialty coffee.
Tidak ada requirement customer harus memahami origin bean atau processing method.
Haus! lebih dekat ke everyday treat.
Rp10 ribuan sampai Rp20 ribuan.
Jajan pulang sekolah.
Jajan setelah kerja.
Minuman setelah makan.
Affordable indulgence.
Ini market besar.
Tapi sangat competitive.
Barrier to entry rendah.
Satu booth minuman bisa muncul dalam seminggu.
Recipe bisa ditiru.
Cup design bisa dibuat.
Location sama-sama di pinggir jalan.
Brand harus punya scale, operational consistency, dan distribution.
Haus! membangun itu.
Pada 2020, company sudah punya lebih dari seratus outlet di Jabodetabek dan Bandung.
Growth cepat.
Lalu pandemic.
Banyak F&B offline terpukul.
Haus! justru mendapat investment baru.
Rp30 miliar dari BRI Ventures
Desember 2020, Haus! mengumumkan pendanaan Rp30 miliar atau sekitar US$2 juta dari BRI Ventures melalui Dana Ventura Sembrani Nusantara.
Saat itu company punya sekitar 109 outlet.
Dana digunakan untuk expansion dan business development.
Yang menarik adalah context.
2020.
Pandemi.
Mall sepi.
Orang lebih hati-hati belanja offline.
Tapi investor tetap masuk.
Haus! punya format store yang relatif compact.
Price affordable.
Takeaway friendly.
Delivery possible.
Ini memberi resilience.
Tidak semua outlet membutuhkan dining room besar.
Model capex bisa lebih rendah daripada cafe premium.
Expansion lebih cepat.
Retail beverage chain hidup dari replication.
Store ke-100 seharusnya lebih mudah dibuka daripada store pertama.
SOP sudah ada.
Supplier ada.
Training ada.
Brand dikenal.
Tapi replication juga bisa memperbesar inconsistency.
Outlet A bagus.
Outlet B gula terlalu manis.
Outlet C service lama.
F&B chain hidup dari detail.
Scale hanya berguna kalau quality tidak collapse.
Series B1 2022 dan sekitar 200 store
Juni 2022, Haus! menyelesaikan Series B1.
Round dipimpin Atlas Global Ventures, Strategic Holdings, dan Prasetia Dwidharma, dengan sejumlah angel investor.
Nominal round tidak diumumkan.
Pada periode itu company menyebut punya sekitar 197 store di 18 kota di Pulau Jawa.
Sales 2021 dilaporkan sekitar US$17,53 juta, naik dari sekitar US$11 juta pada 2020 menurut company statement yang dikutip media retail.
Salah satu investor bahkan menyebut Haus! sudah mencapai profitability.
Pernyataan tersebut datang dari investor pada 2022.
Bukan audited financial statement publik.
Jadi jangan otomatis mengatakan Haus! profitable pada 2026.
Yang bisa dikatakan:
pada 2022 investor menyebut company profitable dan tidak bergantung penuh pada external funding untuk survival.
Itu historical evidence.
Company kemudian menggunakan funding untuk growth, termasuk app development.
Dan benar saja, Haus! meluncurkan aplikasi own-channel.
App sendiri adalah strategic move
Kalau brand F&B bergantung GoFood atau GrabFood, convenience tinggi.
Tapi ada cost.
Commission.
Promo.
Customer data berada di platform pihak ketiga.
Brand relationship mediated.
Aplikasi sendiri memberi:
direct customer relationship.
loyalty.
voucher.
payment.
pickup.
dine-in ordering.
delivery.
store discovery.
notification.
data behavior.
Pada 2026, Haus! app memungkinkan customer memilih delivery, pickup, atau dine-in.
App juga menampilkan store terdekat.
Google Play mencatat update Januari 2026 dengan improvement OTP WhatsApp.
Detail kecil.
Tapi evidence maintenance jelas.
Aplikasi bukan abandoned pandemic project.
Masih diurus.
App Store current menyebut lebih dari 200 store.
Ini angka company dalam app description, bukan audited outlet count.
Website location page juga menampilkan banyak store di Bandung, Bekasi, Tangerang, Yogyakarta, dan city cluster lain.
Beberapa listing lokasi punya error address atau repetition pada bagian “store terbaru”, menunjukkan website data tidak selalu perfect.
Karena itu tidak bijak menghitung store current hanya dari HTML page.
Lebih aman menggunakan statement app:
200+ store.
Haus! berkembang menjadi multi-brand menu ecosystem
Minuman punya masalah basket size.
Satu customer datang.
Beli satu cup.
Rp15 ribu.
Store harus membayar rent dan staff.
Kalau brand bisa menjual food, average transaction naik.
Haus! membuat Ganjel Roti.
Pedes Cyin.
Hot Oppa.
Nama-namanya sangat mass-market F&B.
Playful.
Mudah diingat.
Bukan separate luxury brands.
Mereka dirancang menjadi add-on.
Customer beli minuman.
Sekalian roti.
Sekalian snack pedas.
Ini powerful.
Upselling lebih murah daripada mencari customer baru.
Dan kitchen utilization bisa naik.
Tapi product complexity ikut naik.
Minuman punya prep process.
Food butuh heat.
Inventory berbeda.
Expiry berbeda.
Food safety.
Packaging.
Training.
Store kecil harus manage lebih banyak SKU.
Brand harus memastikan add-on tidak memperlambat core beverage service.
Kalau customer beli satu es teh tapi antre 20 menit karena kitchen food kacau, expansion menu backfires.
F&B portfolio selalu trade-off antara basket size dan operational simplicity.
Haus! Party menambah occasion
Website 2026 menampilkan Haus Party.
Package untuk event.
Birthday.
Office.
Gathering.
Event order menarik karena volume.
Satu transaction bisa puluhan atau ratusan cup.
Delivery dan preparation bisa planned.
Cost acquisition rendah dibanding 100 individual order.
Corporate dan event business juga membantu brand keluar dari traffic store.
Beverage chain biasanya punya unused capacity pada jam tertentu.
Bulk order bisa fill.
Ini similar strategy banyak coffee chain.
Janji Jiwa punya Big Order.
Fore punya corporate ordering channel dalam berbagai format.
Haus! membangun Party.
F&B chain yang mature mulai mengejar occasion.
Bukan hanya location.
Customer ada di wedding.
Office.
School.
Birthday.
Community event.
Brand masuk.
Revenue tidak harus datang dari walk-in.
Affordability tetap moat utama
Haus! tidak punya luxury positioning.
Ini bisa menjadi keunggulan besar saat consumer spending pressure naik.
Customer muda ingin jajan.
Budget tetap terbatas.
Minuman Rp15 ribu easier to repeat than Rp50 ribu coffee.
Tapi affordable market juga unforgiving.
Rp2 ribu difference matters.
Competitor mudah muncul.
Street beverage.
Mixue.
Chatime.
Xi Bo Ba-type local brands.
Kopi chain.
Convenience store drink.
Es teh jumbo.
Local booth.
Haus! harus menjaga price-value equation.
Slogan “Semua Berhak Minum Enak” basically adalah price promise.
Kalau harga terlalu naik, brand identity rusak.
Kalau tidak naik saat cost naik, margin tertekan.
Milk.
Sugar.
Tea.
Coffee.
Cup.
Rent.
Labor.
Electricity.
Delivery.
Semua inflation.
Mass-market F&B is arithmetic.
Brand team bisa bikin campaign.
Finance tetap hitung gram syrup.
Current entity jelas: PT Inspirasi Bisnis Nusantara
Website official dan Google Play konsisten.
Haus! Indonesia dioperasikan PT Inspirasi Bisnis Nusantara.
Alamat company di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Developer app sama.
Ini entity mapping yang clean.
Brand: Haus! Indonesia.
Operator: PT Inspirasi Bisnis Nusantara.
Founded: 2018.
Founder/CEO yang historically dikenal: Gufron Syarif.
Business: beverage chain, snack brands, app-based ordering, retail outlets, event order.
Tidak ada rebrand corporate besar yang perlu dibedakan.
Ini berbeda dari Jiwa Group yang punya multiple consumer brands under one group identity.
Haus! brand dan operator relationship lebih direct.
Haus! masih startup?
Pada 2026, calling Haus! “startup minuman” masih understandable karena company private dan venture-backed.
Tapi operationally ia sudah chain F&B mature.
200+ store.
Delapan tahun umur.
Own app.
Multi-product.
Event service.
Hundreds of employees.
Startup label semakin less informative.
Lebih accurate:
venture-backed beverage and F&B chain.
Technology-enabled retail.
Kalau semua company yang pernah raise VC disebut startup selamanya, category tidak punya expiry.
Haus! sudah menjalankan retail operation nyata bertahun-tahun.
Value-nya bukan future promise.
Store already exist.
Status Haus! pada Agustus 2026
Haus! masih aktif.
Website official live.
Store locator current.
Aplikasi Android diperbarui 28 Januari 2026.
App Store menyebut jaringan lebih dari 200 store.
PT Inspirasi Bisnis Nusantara masih tercantum sebagai developer dan operator.
Product ecosystem mencakup Haus!, Ganjel Roti, Pedes Cyin, Hot Oppa, app ordering, dan Haus Party.
Historical funding termasuk investasi Rp30 miliar dari BRI Ventures pada 2020 dan Series B1 undisclosed pada 2022.
Tidak ada evidence yang mendukung claim Haus! berhenti.
Justru continuity cukup kuat.
Yang tidak kita tahu dari public data:
revenue current.
profitability 2026.
same-store sales.
store closure rate.
cash position.
private company tidak wajib membuka angka seperti Fore.
Jangan tebak.
Tapi mungkin justru itu yang membuat comparison menarik.
Fore sudah listed dan financial-nya public.
Haus! private.
Dua-duanya menjual minuman.
Transparency level berbeda.
Customer tidak peduli.
Seorang mahasiswa selesai kelas mungkin cuma bilang:
“Haus dulu, yuk.”
Bukan:
“Bagaimana posisi EBITDA perusahaan?”
Brand yang bertahan adalah brand yang bisa menjadi verb kecil dalam kehidupan.
Mau minum.
Mau jajan.
Mau nongkrong.
Haus! sudah melewati beberapa wave tren minuman.
Boba.
Pandemi.
Coffee boom.
Mixue wave.
Funding winter.
AI era.
Pada 2026, cup-nya masih dijual.
Kadang survival F&B memang tidak butuh plot twist besar.
Cukup satu hal yang susah:
orang masih mau beli lagi.
Relasi arsip dan jalur verifikasi
Untuk menempatkan Haus! di dalam struktur arsip, catatan ini terhubung ke metodologi Indonesian Entity Archive, Indeks Status Entitas, Archive Source Register, Kebijakan Koreksi dan Tinjauan Arsip, Entity Relationships.
Relasi arsip dan jalur verifikasi
- Startup Archive
- Fore Coffee Masih Aktif? Arsip Entitas Food-tech Indonesia dan Model Bisnisnya
- Apa yang Terjadi dengan Jiwa Group? Pertumbuhan, Perubahan, dan Status Terbaru
- Dailybox: Sejarah Startup Grocery/Food Commerce dan Kondisinya hingga 2026
- Mangkokku: Sejarah Startup Grocery/Food Commerce dan Kondisinya hingga 2026
- Indeks status entitas
- Register sumber
- Metodologi arsip
- Kebijakan koreksi
