Krom Bank 2026: Status Bank, Kepemilikan, dan Transformasi Digital di Indonesia

INDONESIANENTITYARCHIVE.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM

Krom Bank 2026: Status Bank, Kepemilikan, dan Transformasi Digital di Indonesia

FormatPost
Diperbarui22 September 2026
Waktu baca8 menit
KonteksPanduan praktis

Kalau melihat Krom dari aplikasinya, bank ini terasa muda.

Nama pendek.

Visual modern.

Bunga tabungan dan deposito digital menjadi bagian besar positioning.

Target market retail dan UMKM.

Semua sangat 2020-an.

Lalu buka sejarah badan hukumnya.

1957.

Krom ternyata membawa salah satu legal lineage paling tua di antara bank digital yang ramai dibicarakan sekarang.

Bank ini lahir di Bandung dengan nama Bank Ekonomi Nasional N.V.

Kemudian berganti nama beberapa kali.

Menjadi Bank Pengembangan Nasional.

Lalu Business International Bank.

Kemudian PT Bank Bisnis Internasional.

Pada 2020, Bank Bisnis masuk Bursa Efek Indonesia dengan kode BBSI.

Dua tahun kemudian, PT FinAccel Teknologi Indonesia, perusahaan dalam ecosystem FinAccel yang juga berada di balik Kredivo, mengakuisisi mayoritas saham bank.

Pada September 2022, nama PT Bank Bisnis Internasional Tbk berubah menjadi PT Krom Bank Indonesia Tbk.

Aplikasi Krom kemudian diluncurkan pada akhir 2023.

Sampai Agustus 2026, Krom Bank masih aktif, listed dengan ticker BBSI, dan tetap dikendalikan PT FinAccel Teknologi Indonesia yang memegang 75 persen saham berdasarkan disclosure investor bank.

Jadi Krom bukan bank baru.

Ia adalah bank 1957 yang tubuh hukumnya dibawa masuk ke ecosystem fintech lebih dari enam dekade kemudian.

Dari Bank Ekonomi Nasional ke Bank Bisnis

Sejarah Krom dimulai 16 Maret 1957.

Nama awalnya Bank Ekonomi Nasional N.V.

Bank lahir di Bandung.

Pada 1976, nama berubah menjadi PT Bank Pengembangan Nasional.

Kemudian identity kembali bergerak dan pada tahap berikutnya bank dikenal sebagai Business International Bank.

Nama akhirnya menjadi PT Bank Bisnis Internasional.

Selama puluhan tahun, bank ini hidup sebagai bank swasta relatif kecil.

Tidak punya image digital bank.

Tidak punya consumer app modern.

Tidak punya hubungan dengan Kredivo.

Lalu market berubah.

Pada 2020, Bank Bisnis melakukan IPO dan tercatat dengan kode BBSI.

Listing memberi satu jalan baru.

Bank punya akses ke pasar modal.

Shareholder public masuk.

Corporate disclosure meningkat.

Dan dua tahun setelah IPO, FinAccel masuk secara agresif.

Ini turning point yang sangat besar.

PT FinAccel Teknologi Indonesia mengakuisisi mayoritas Bank Bisnis pada 2022.

Setelah transaksi selesai, FinAccel memegang 75 persen saham.

Buat FinAccel, move ini strategic.

Kredivo sudah kuat di digital credit dan paylater.

Punya bank membuka capability baru.

Deposit.

Banking product.

Funding structure yang berbeda.

Loan product yang lebih luas.

Financial ecosystem bisa berkembang.

Buat bank, FinAccel membawa technology DNA dan distribution experience.

Kombinasinya jelas.

Fintech punya user dan software.

Bank punya license dan balance sheet.

Tapi relationship ini tidak berarti Krom dan Kredivo adalah produk yang sama.

Entity berbeda.

Krom bank.

Kredivo fintech credit ecosystem.

Parent relationship menghubungkan.

License tetap terpisah.

Nama berubah pada 2022

Perubahan nama PT Bank Bisnis Internasional Tbk menjadi PT Krom Bank Indonesia Tbk efektif 15 September 2022.

Alasan resmi yang dicantumkan bank adalah menyesuaikan visi menghadapi tantangan digital.

Ini bukan rebrand kecil.

Nama “Bank Bisnis Internasional” terdengar legacy.

“Krom” terasa consumer-tech.

Perubahan nama memberi signal bank tidak lagi mengejar identity lama.

Tapi interesting-nya, aplikasi digital baru benar-benar diluncurkan setahun lebih kemudian.

Google Play pada 23 Oktober 2023.

App Store pada 8 November 2023.

Jadi transformation punya beberapa layer.

Akuisisi.

Perubahan nama.

Technology preparation.

App launch.

Digital growth.

Ini lebih realistis daripada cerita “bank dibeli lalu besok jadi digital”.

Core banking transformation makan waktu.

Security.

Migration.

Risk.

Compliance.

App.

API.

Product.

Semua harus siap.

Bank bukan website yang bisa rebrand satu malam.

FinAccel masih memegang 75 persen

Halaman investor Krom menunjukkan PT FinAccel Teknologi Indonesia memiliki 2,756 miliar saham atau 75 persen.

Sundjono Suriadi sekitar 4,91 persen.

PT Sun Land Investama sekitar 4,97 persen.

PT Sun Antarnusa Investment sekitar 4,87 persen.

Masyarakat sekitar 10,25 persen.

Karena Krom public company, angka public float bisa bergerak.

Tetapi control sangat clear.

FinAccel memegang tiga perempat saham.

Ini jauh di atas threshold control.

Jadi kalau orang bilang Krom bagian FinAccel ecosystem, itu accurate.

Kalau bilang Krom “milik Kredivo”, perlu diperbaiki.

Kredivo dan Krom related melalui FinAccel.

Kredivo bukan badan hukum yang secara sederhana memegang seluruh bank.

Corporate tree matters.

FinAccel punya financial ecosystem.

Krom salah satu regulated bank entity di dalamnya.

Krom juga tetap punya minority shareholders dan public investors.

75 persen bukan 100 persen.

Krom 2025 menunjukkan scale yang meningkat cepat

Halaman investor Krom menunjukkan total aset tumbuh menjadi sekitar Rp12,2 triliun pada 2025.

Dana pihak ketiga sekitar Rp8,4 triliun.

Kredit sekitar Rp8,6 triliun.

Laba bersih sekitar Rp143 miliar.

Angka tersebut memberi satu picture.

Krom sudah melewati fase app experiment.

Balance sheet tumbuh cepat.

Deposit masuk.

Loan naik.

Bank menghasilkan laba.

Tentu growth cepat membawa risk.

Loan book yang naik sangat cepat harus disertai underwriting yang disiplin.

Deposit growth juga harus dikelola.

Bank tidak boleh hanya melihat quantity.

Cost of fund.

Liquidity.

Concentration.

Asset quality.

Semua tetap matter.

Digital banking sering membuat growth kelihatan seperti SaaS.

User count.

Deposit.

Loan.

Tapi satu loan default tidak sama dengan user churn.

Risk economics berbeda.

Banking growth harus lebih boring daripada startup growth.

Kalau terlalu exciting, kadang regulator justru mulai bertanya lebih banyak.

Krom dan Kredivo punya synergy, tapi boundary penting

FinAccel punya sejarah kuat di consumer lending melalui Kredivo.

Krom punya banking license.

Synergy obvious.

Data dan distribution bisa membantu.

User ecosystem bisa overlap.

Tapi bank harus punya independent risk governance.

Tidak boleh semua decision hanya mengikuti kebutuhan affiliate.

Related-party relationship harus dikelola.

Transfer pricing.

Technology licensing.

Cost sharing.

Brand licensing.

Semua bisa masuk transaksi afiliasi.

Laporan 2025 bahkan mencatat perjanjian lisensi antara Krom dan PT FinAccel Teknologi Indonesia.

Pada Januari 2026, FinAccel menyetujui penghapusan kewajiban royalti tertentu sementara Krom tetap berhak menggunakan merek yang dilisensikan.

Detail seperti ini menunjukkan integration group bukan sekadar logo.

Ada contract nyata antar entity.

Dan karena kedua perusahaan related, governance harus transparent.

Inilah bedanya financial conglomerate dengan satu app.

Apa yang user lihat seamless.

Di belakangnya ada intercompany agreement.

Krom tetap public company dengan ticker BBSI

Meskipun nama bank berubah, kode saham tidak ikut menjadi “KROM”.

Ticker tetap BBSI.

Fossil history lagi.

BBSI berasal dari Bank Bisnis.

Investor lama tetap memegang saham yang sama secara legal setelah rebrand.

Nama company berubah.

Saham tidak dihapus lalu diterbitkan ulang sebagai perusahaan baru.

Ini penting.

Krom tidak IPO pada 2023.

Bank yang sama sudah IPO pada 2020.

Rebrand dan digital launch datang setelahnya.

Kalau ada artikel menulis “Krom IPO pada 2020”, technically brand Krom belum ada saat itu.

Lebih accurate:

PT Bank Bisnis Internasional Tbk melakukan IPO pada 2020 dengan ticker BBSI, kemudian badan hukum yang sama berubah nama menjadi PT Krom Bank Indonesia Tbk pada 2022.

Detail chronology seperti ini membuat history tidak misleading.

Bunga tinggi bukan seluruh cerita

Krom dikenal dengan produk tabungan dan deposito digital yang menawarkan rate kompetitif sesuai ketentuan.

Ini memang powerful acquisition tool.

User suka interest.

Digital bank berlomba.

Tapi seperti bank lain, penjaminan LPS mengikuti syarat yang berlaku.

Nasabah harus memperhatikan tingkat bunga penjaminan current.

Jangan hanya melihat banner.

LPS participation bukan blanket guarantee untuk semua rate tanpa syarat.

Dan dari sisi bank, bunga tinggi berarti cost.

Deposit harus disalurkan produktif.

Kalau bank membayar mahal untuk dana, loan yield dan asset quality harus cukup sehat.

Jadi perang bunga punya batas economics.

Digital bank yang mature eventually harus membangun value beyond rate.

UX.

Service.

Ecosystem.

Product.

Trust.

Kalau user cuma datang karena bunga tertinggi, mereka bisa pergi saat bank lain memberi lebih tinggi.

Hot money tidak sama dengan loyal deposit.

Itu challenge semua digital bank.

2026 menunjukkan Krom masih aktif secara korporasi

Krom menerbitkan laporan keuangan audited 2025 pada 2026.

Sustainability report 2025 juga terbit.

Investor relation aktif.

Dokumen corporate masih diperbarui.

Ini evidence institutional yang lebih kuat daripada sekadar app listing.

Bank juga masih punya management dan board active.

Jadi tidak ada tanda Krom berhenti atau kembali menjadi bank legacy.

Transformasi digital tetap menjadi core strategy.

Nama Krom sudah melekat.

FinAccel masih controlling shareholder.

Bank tetap menjalankan reporting sebagai listed company.

Status sampai Agustus 2026

Krom Bank masih aktif sebagai PT Krom Bank Indonesia Tbk dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode BBSI.

Badan hukumnya didirikan pada 16 Maret 1957 sebagai Bank Ekonomi Nasional N.V. dan kemudian mengalami beberapa perubahan nama hingga menjadi PT Bank Bisnis Internasional Tbk.

Bank Bisnis IPO pada 2020.

Pada 2022, PT FinAccel Teknologi Indonesia mengakuisisi 75 persen saham dan menjadi controlling shareholder.

Nama bank berubah menjadi Krom pada September 2022.

Aplikasi digital diluncurkan pada akhir 2023.

Pada 2026, FinAccel masih memegang 75 persen saham berdasarkan disclosure bank.

Krom juga tetap punya minority dan public shareholders.

Jadi transformation Krom bukan startup membeli license kosong.

Ia adalah legal lineage 1957 yang ditarik masuk ke era digital oleh fintech ecosystem.

Yang paling modern dari bank ini mungkin app-nya.

Yang paling old-school justru akta pendiriannya.

Ada satu hal lain yang menarik dari Krom: public market memaksa transformation ini terjadi di depan investor.

BBSI sudah listed sebelum nama Krom ada.

Artinya setiap perubahan besar tidak hanya dilihat regulator dan management, tetapi juga pasar.

Investor lama yang membeli saham Bank Bisnis akhirnya memegang saham entity yang berubah menjadi digital bank FinAccel.

Thesis investasinya ikut berubah.

Ini membuat transformation Krom lebih visible dibanding bank privat.

Kinerja, related-party transaction, shareholder composition, dan corporate action harus terus dibuka.

Bagi nasabah, transparency pasar modal ini memberi layer tambahan untuk melihat kondisi bank.

Bagi management, pressure-nya lebih tinggi.

Mereka tidak cukup membuat app terlihat menarik.

Balance sheet dan governance harus mampu menjelaskan kenapa transformation itu masuk akal.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Untuk menempatkan Krom Bank di dalam struktur arsip, catatan ini terhubung ke metodologi Indonesian Entity Archive, Indeks Status Entitas, Archive Source Register, Kebijakan Koreksi dan Tinjauan Arsip, Entity Relationships.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Scroll to Top