Apa yang Berubah di hibank? Jejak Korporasi dan Status Perbankan Indonesia

✦ INDONESIANENTITYARCHIVE.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM

Apa yang Berubah di hibank? Jejak Korporasi dan Status Perbankan Indonesia

◆ FormatPost
↻ Diperbarui23 September 2026
◷ Waktu baca8 menit
✦ KonteksPanduan praktis

Kalau lihat nama hibank sekarang, kesannya sangat digital.

Pendek.

Lowercase.

Friendly.

Seolah bank ini lahir dari tim product modern yang ingin bicara langsung ke pelaku UMKM.

Padahal legal lineage-nya bukan baru kemarin sore.

hibank berasal dari PT Bank Mayora.

Bank ini sudah beroperasi sejak 1993 dan selama puluhan tahun dikenal sebagai bank swasta nasional yang punya hubungan kuat dengan Mayora Group.

Perubahan besar baru terjadi pada 2022.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk resmi mengakuisisi 63,92 persen saham Bank Mayora pada 18 Mei 2022.

PT Mayora Inti Utama tetap memegang 36,08 persen.

Sejak itu Bank Mayora masuk BNI Group.

Kemudian pada 2023, nama PT Bank Mayora berubah menjadi PT Bank Hibank Indonesia.

OJK menyetujui perubahan nama pada Mei 2023.

Sampai Agustus 2026, komposisi pemegang saham yang dipublikasikan masih 63,92 persen BNI dan 36,08 persen PT Mayora Inti Utama.

Jadi hibank bukan bank baru.

Ia adalah Bank Mayora yang bertransformasi setelah BNI masuk sebagai pengendali.

Dan kalau ingin memahami apa yang berubah, jawabannya bukan cuma nama.

Target market.

Technology.

Corporate identity.

Product strategy.

Hubungan dengan ecosystem BNI.

Semua bergerak.

Bank Mayora punya DNA yang berbeda

Sebelum masuk BNI, Bank Mayora dikenal sebagai bank yang beroperasi sejak 1993.

Nama Mayora naturally membuat orang menghubungkannya dengan group consumer goods besar.

Dan memang PT Mayora Inti Utama merupakan shareholder utama sebelum transaksi BNI.

Model bank saat itu lebih konvensional.

Simpanan.

Giro.

Deposito.

Kredit.

Commercial banking.

Branch operation.

Tidak ada branding digital yang agresif.

Tidak ada positioning sebagai “orkestrator UMKM”.

Tidak ada identity lowercase seperti sekarang.

Namun Bank Mayora punya satu asset penting yang sering dilupakan saat bank kecil diakuisisi.

License dan institutional history.

Bank sudah melewati krisis 1997 dan 1998.

Sudah punya governance structure.

Sudah punya customer.

Sudah punya core operation.

Ini membuat transformation lebih realistis daripada membangun bank dari nol.

BNI bisa masuk ke badan hukum yang sudah berjalan lalu memperkuat capital, technology, dan strategy.

Tentu takeover seperti ini tetap butuh persetujuan regulator dan proses corporate formal.

Tidak sekadar ganti owner di spreadsheet.

18 Mei 2022 menjadi titik balik

Akuisisi BNI selesai pada 18 Mei 2022.

Setelah transaksi, struktur kepemilikan berubah.

BNI 63,92 persen.

PT Mayora Inti Utama 36,08 persen.

Angka ini masih bertahan sampai akhir 2025 berdasarkan annual report hibank yang diterbitkan pada 2026.

Ini cukup menarik.

Mayora tidak keluar sepenuhnya.

Mereka tetap shareholder besar.

Artinya hibank bukan 100 persen milik BNI.

Control memang ada di BNI karena kepemilikan mayoritas.

Tapi Mayora tetap punya economic interest yang besar.

Struktur seperti ini membuka potential synergy dua ecosystem.

BNI punya financial infrastructure, corporate network, government-linked ecosystem, treasury, payment, dan SME capabilities.

Mayora punya business ecosystem consumer goods dan distribution.

Secara theory, bank bisa belajar dari keduanya.

Namun jangan overclaim bahwa hibank otomatis menjadi bank internal Mayora.

Tidak ada basis untuk menyederhanakan seperti itu.

Bank tetap menjalankan usaha perbankan untuk masyarakat dan business sesuai izin.

Relationship shareholder bukan berarti semua loan hanya ke affiliate.

Governance dan related-party rules tetap berlaku.

2023, Bank Mayora berubah menjadi hibank

Perubahan nama formal mendapatkan persetujuan OJK pada 17 Mei 2023.

PT Bank Mayora menjadi PT Bank Hibank Indonesia.

Nama hibank dibaca “hai bank”.

Brand ini sengaja dibuat lebih casual dan mudah diterima market digital.

Perusahaan menjelaskan transformation sebagai langkah menjadi digital bank dengan fokus UMKM.

Ini bukan sekadar rebrand kosmetik.

Bank ingin punya role yang lebih spesifik dalam BNI Group.

BNI sudah punya bank induk besar yang melayani corporate, retail, commercial, dan international.

Kalau hibank hanya meniru BNI versi kecil, tidak ada alasan strategic yang kuat.

Maka fokus UMKM menjadi differentiation.

hibank memosisikan diri sebagai bank digital yang menjadi “orkestrator UMKM”.

Kalimatnya cukup ambitious.

Bukan hanya memberi rekening.

Bank ingin membantu transaksi, pembiayaan, cash flow, dan financial ecosystem business.

UMKM sebagai target market bukan pilihan random.

BNI punya jaringan enterprise dan supply chain yang besar.

UMKM sering berada sebagai distributor, vendor, supplier, merchant, atau downstream partner.

Bank digital bisa masuk ke titik-titik tersebut dengan biaya operasional lebih rendah dibanding membuka cabang tradisional.

BNI Group memberi infrastructure, hibank mengejar niche.

Kenapa UMKM butuh bank digital khusus?

Pelaku usaha kecil punya financial behavior yang berbeda dari employee retail.

Cash flow harian.

Invoice.

Stok.

Supplier.

Pembayaran customer.

Modal kerja.

Owner sering mencampur rekening personal dan business.

Accounting tidak selalu rapi.

Traditional banking product kadang terasa terlalu general.

Digital bank yang fokus UMKM bisa membuat feature lebih sesuai.

Misalnya transaction categorization.

Business account.

Payment collection.

Supplier payment.

Credit based on cash flow.

Integration dengan marketplace atau POS.

Semua theoretically bisa dibangun.

Tapi fokus UMKM juga menambah risk.

Data small business messy.

Income volatile.

Business bisa tutup cepat.

Owner dependence tinggi.

Digital scoring tidak boleh terlalu optimistis.

Kalau underwriting hanya mengejar growth, loan quality bisa rusak.

Jadi “digital UMKM bank” bukan pekerjaan mudah.

Technology membantu distribution.

Risk discipline tetap penentu.

Ownership 2026 masih BNI dan Mayora

Annual report 2025 yang terbit pada 2026 menampilkan struktur shareholder yang clean.

BNI 63,92 persen.

PT Mayora Inti Utama 36,08 persen.

Tidak ada public float karena hibank bukan perusahaan yang sahamnya listing di Bursa Efek Indonesia.

Ini membuat control cukup jelas.

BNI adalah controlling shareholder.

Mayora Inti Utama adalah significant minority shareholder.

Pemerintah Republik Indonesia mengendalikan BNI melalui struktur BUMN yang berlaku.

Jadi secara indirect, hibank berada dalam financial conglomerate BNI yang terkait negara.

Namun hibank sendiri berbentuk PT Bank Hibank Indonesia.

Bukan unit internal BNI.

Bukan cabang BNI.

Bukan aplikasi BNI.

Ini distinction penting.

Kalau nasabah membuka rekening hibank, hubungan bank-nya dengan PT Bank Hibank Indonesia.

Bank punya balance sheet sendiri.

Management sendiri.

Laporan sendiri.

Capital sendiri.

Walau parent BNI melakukan consolidation sesuai standard akuntansi, entity legal tetap terpisah.

Branding yang disejajarkan dengan BNI Group tidak menghapus badan hukum.

hibank masih mempertahankan hubungan Mayora

Annual report juga menampilkan related parties dari Mayora Group.

Ini menunjukkan relationship shareholder masih aktif dalam corporate context.

Tapi sekali lagi, related-party relationship harus dikelola.

Bank tidak boleh memberi perlakuan kredit sembarangan karena affiliate.

Ada governance.

Limit.

Disclosure.

Risk control.

Justru bank dengan shareholder corporate group harus lebih disiplin menunjukkan arm's-length principle.

Public trust akan sensitif.

Kalau bank dianggap hanya menjadi sumber funding group, reputasi bisa terganggu.

BNI sebagai controlling shareholder punya incentive menjaga itu.

Karena reputasi hibank eventually juga menyentuh BNI Group.

Digital bank subsidiary harus punya credibility independent.

Tidak cukup bilang “anak BNI”.

Nasabah ingin tahu service-nya bagus.

Security aman.

Customer support jalan.

Loan prudent.

Savings reliable.

Parent trust membantu.

Operating quality tetap harus dibuktikan.

2026 menunjukkan hibank masih actively operating

Website hibank pada Juli 2026 masih diperbarui.

Kurs berjalan.

Pengumuman maintenance system ada.

Awards 2026 ditampilkan.

Aplikasi mobile tersedia.

Company report 2025 sudah diterbitkan.

Ini operational evidence yang cukup tebal.

Bank juga masih secara eksplisit menyebut dirinya sebagai bagian atau anak perusahaan BNI dengan corporate identity yang disejajarkan dengan parent.

Jadi tidak ada indication transformation berhenti.

Nama hibank bukan campaign temporary.

Bank Mayora identity memang sudah ditinggalkan secara legal sejak 2023.

Namun legacy Mayora tetap hidup dalam shareholder structure 36,08 persen.

Ini menarik.

Nama Mayora hilang dari brand.

Mayora tidak hilang dari cap table.

Entity archive harus menyimpan dua-duanya.

Kalau hanya lihat logo, orang bisa mengira Mayora sudah keluar.

Kalau hanya lihat shareholder, orang bisa mengira bank masih bernama Bank Mayora.

Keduanya incomplete.

Chronology menyelesaikan.

Status bank tetap bank umum

hibank pada 2026 menyatakan dirinya berizin dan diawasi OJK dan Bank Indonesia serta menjadi peserta LPS.

Ini penting karena kata “digital bank” kadang membuat orang merasa produk ini seperti fintech.

Tidak.

hibank adalah bank.

Tabungan adalah simpanan bank.

Deposito adalah produk bank.

Kredit adalah exposure bank.

Semua diatur dalam framework perbankan.

LPS melindungi simpanan sesuai syarat yang berlaku, bukan sekadar karena logo LPS tampil.

Nasabah tetap perlu memperhatikan batas simpanan dan tingkat bunga penjaminan.

Digital experience tidak mengubah rule.

App boleh satu tap.

Risk management tetap berlapis-lapis.

Pada akhirnya, digital bank adalah bank dengan distribution dan technology model berbeda.

Bukan kategori hukum yang lebih santai.

Status sampai Agustus 2026

hibank masih aktif sebagai PT Bank Hibank Indonesia.

Bank ini merupakan kelanjutan PT Bank Mayora yang telah beroperasi sejak 1993.

BNI menyelesaikan akuisisi mayoritas pada 18 Mei 2022.

Setelah transaksi, BNI memegang 63,92 persen saham dan PT Mayora Inti Utama 36,08 persen.

Komposisi tersebut masih dipublikasikan sama sampai akhir 2025 dalam annual report yang terbit pada 2026.

Pada Mei 2023, PT Bank Mayora resmi berubah nama menjadi PT Bank Hibank Indonesia setelah memperoleh persetujuan OJK.

hibank kini diposisikan sebagai bank digital BNI Group dengan fokus UMKM.

Bank masih berizin dan diawasi OJK dan Bank Indonesia serta menjadi peserta LPS.

Jadi apa yang berubah?

Hampir seluruh identity yang terlihat nasabah.

Nama.

Brand.

Parent control.

Strategy.

Technology.

Target market.

Yang tidak berubah adalah continuity badan hukum sebagai bank.

Bank Mayora tidak hilang lalu BNI mendirikan bank baru.

Badan hukumnya bergerak ke chapter baru.

Dan sekarang chapter itu bernama hibank.

Ada satu perubahan organisasi yang juga penting ketika bank masuk ke group besar.

Bank kecil biasanya punya cara kerja yang lebih dekat dan personal. Keputusan bisa bergerak cepat karena struktur lebih ramping.

Begitu masuk BNI Group, hibank harus menyelaraskan risk appetite, governance, technology standard, information security, audit, dan group policy.

Ini bukan berarti semua process menjadi identik dengan BNI.

Subsidiary tetap butuh kelincahan.

Tapi bank tidak bisa lagi bekerja seperti perusahaan independen yang menentukan standard sendiri.

Ada expectation group.

Ada consolidated risk.

Ada reputational exposure.

Kalau hibank mengalami cyber incident, publik tidak akan berkata “itu cuma subsidiary”.

Nama BNI ikut disebut.

Itulah harga memiliki parent besar.

Trust naik.

Pressure governance juga naik.

Buat UMKM, perubahan yang paling valuable justru harus terasa sederhana.

Onboarding lebih mudah.

Transaksi tidak ribet.

Pembiayaan relevan.

Customer service memahami business.

Kalau transformation hanya menghasilkan logo baru dan app baru tanpa memperbaiki journey usaha kecil, mission “orkestrator UMKM” akan terdengar seperti jargon.

2026 menjadi fase penting untuk membuktikan bahwa rebrand 2023 sudah berubah menjadi operating capability, bukan hanya corporate identity.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Untuk menempatkan hibank di dalam struktur arsip, catatan ini terhubung ke metodologi Indonesian Entity Archive, Indeks Status Entitas, Archive Source Register, Kebijakan Koreksi dan Tinjauan Arsip, Entity Relationships.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Scroll to Top