Aruna: Sejarah Platform Pertanian Digital dan Perubahan hingga 2026

✦ INDONESIANENTITYARCHIVE.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM

Aruna: Sejarah Platform Pertanian Digital dan Perubahan hingga 2026

◆ FormatPost
↻ Diperbarui17 October 2026
◷ Waktu baca8 menit
✦ KonteksPanduan praktis

Pukul empat lewat tiga puluh pagi di pesisir.

Langit belum benar-benar terang.

Es sudah disiapkan.

Perahu kecil bergerak.

Di tempat yang jaraknya ratusan kilometer, seorang procurement manager restoran sedang memeriksa kebutuhan seafood untuk akhir pekan.

Dua orang itu tidak kenal.

Yang satu melihat laut.

Yang satu melihat spreadsheet.

Di tengahnya ada rantai pasok panjang yang selama puluhan tahun diisi tengkulak, pengepul, cold storage, transporter, processor, trader, dan eksportir.

Aruna dibangun untuk masuk ke tengah kekacauan itu.

Bukan membuat nelayan “jualan ikan lewat aplikasi” dalam pengertian sesederhana marketplace.

Lebih kompleks.

Aruna mencoba menghubungkan nelayan skala kecil dengan pasar domestik dan global, sambil membangun layer collection, quality control, cold chain, processing, traceability, distribution, dan data.

Pada 2026, jejak operasionalnya masih sangat jelas.

Website Aruna aktif. PT Aruna Jaya Nuswantara masih tercantum sebagai badan usaha. Perusahaan menampilkan jaringan lebih dari 40 ribu nelayan, 177 Aruna Hub, lebih dari 20 komoditas, dan jangkauan puluhan negara.

Angka tersebut adalah angka yang dipublikasikan perusahaan sendiri, jadi sebaiknya dibaca sebagai klaim operasional Aruna, bukan hasil audit independen.

Namun satu hal tidak ambigu:

Aruna masih memposisikan diri sebagai integrated fisheries commerce.

Dan perjalanan menuju posisi itu dimulai pada 2016.

Tiga anak pesisir dan satu problem lama

Aruna didirikan oleh Farid Naufal Aslam, Indraka Fadhlillah, dan Utari Octavianty.

Ketiganya punya hubungan dengan budaya pesisir dan bertemu dalam lingkungan pendidikan teknologi.

Problem yang mereka lihat tidak sulit dipahami.

Indonesia negara kepulauan.

Laut luas.

Nelayan banyak.

Demand seafood besar.

Tapi pendapatan nelayan sering tidak sebanding dengan nilai akhir produk.

Salah satu penyebabnya adalah supply chain yang panjang dan tidak transparan.

Harga bisa berubah di setiap lapisan.

Nelayan sering tidak punya akses langsung ke buyer besar.

Informasi demand tidak selalu sampai ke titik produksi.

Quality standard pasar ekspor tidak gampang diterjemahkan ke operasi nelayan kecil.

Cold chain mahal.

Traceability sulit.

Data tangkapan tersebar.

“Kenapa ikan dari sini bisa mahal banget pas sampai kota?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Jawabannya adalah seluruh industri.

Aruna tidak bisa menyelesaikannya dengan satu aplikasi.

Karena ikan tidak bisa di-upload.

Ikan harus dikumpulkan.

Disortir.

Didinginkan.

Diproses.

Dikirim.

Dibuktikan asal-usulnya.

Kalau buyer luar negeri minta spesifikasi tertentu, supply harus konsisten.

Kalau temperatur cold chain gagal, seluruh digital transformation bisa berakhir sebagai bau amis di gudang.

2017: Aruna Hub pertama

Pada 2017, Aruna mendirikan hub pertamanya di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Hub adalah konsep penting dalam sejarah perusahaan.

Digital platform bisa menghubungkan demand dan supply.

Tetapi supply perikanan hidup tersebar di wilayah pesisir.

Nelayan tidak semuanya punya akses teknologi, cold storage, packaging, logistics, atau standardization.

Hub menjadi titik fisik.

Tempat komoditas dikumpulkan.

Dijaga kualitasnya.

Dikelola alurnya.

Dari sana supply bisa masuk ke jaringan yang lebih luas.

Ini model hybrid yang sangat agritech atau fishtech Indonesia.

Software di atas.

Operasi lapangan di bawah.

Kalau salah satu tidak jalan, perusahaan tidak jalan.

Pada tahun yang sama, Aruna mulai melakukan penjualan di beberapa kota dan mencatat ekspor awal.

Lalu ekspansi berlanjut ke pulau-pulau besar.

Perusahaan juga membangun komunitas nelayan.

Dari sinilah Aruna mulai lebih mirip supply-chain company dengan technology backbone daripada marketplace biasa.

Series A US$35 juta

Pada Juli 2021, Aruna mengumumkan pendanaan Series A sebesar US$35 juta.

Putaran itu dipimpin Prosus Ventures dan East Ventures Growth Fund, dengan partisipasi SIG serta investor lama termasuk AC Ventures, MDI, dan Vertex Ventures.

Saat itu Aruna menyebut memiliki lebih dari 21 ribu nelayan terdaftar di 13 provinsi.

Pendanaan tersebut diarahkan untuk memperluas jaringan, memperkuat supply-chain infrastructure, mengembangkan pasar baru, product diversification, data analytics, dan teknologi.

2021 adalah tahun ketika banyak startup Indonesia mendapat valuasi besar dan growth narrative sedang sangat bullish.

Tetapi fisheries punya karakter unik.

Anda tidak bisa scale hasil tangkapan seperti menambah server.

Supply bergantung musim.

Cuaca.

Gelombang.

Populasi ikan.

Regulasi.

Area tangkap.

Kualitas.

Kapasitas kapal.

Cold chain.

Permintaan global.

Harga.

Dan tentu saja keberlanjutan.

Kalau growth dikejar tanpa sustainability, bisnis bisa merusak resource yang menjadi sumber hidupnya sendiri.

Jadi Aruna tidak cukup hanya bicara volume.

Ia harus bicara traceability dan responsible fisheries.

Traceability bukan buzzword ESG

Bayangkan buyer Jepang membeli tuna.

Ia tidak cuma bertanya, “Ada tuna?”

Ia bisa bertanya ukuran.

Grade.

Metode penangkapan.

Lokasi.

Handling.

Cold chain.

Dokumentasi.

Compliance.

Semakin premium dan semakin global pasarnya, semakin penting data.

Aruna menyebut menggunakan big data untuk mencatat hasil tangkapan nelayan dan membangun basis data supply.

Perusahaan juga menekankan sustainable fishing practice dan traceability.

Ini adalah titik di mana technology punya value yang sangat nyata.

Bukan bikin dashboard keren.

Membuat ikan punya history.

Dari mana.

Siapa menangkap.

Bagaimana kualitasnya.

Ke mana bergerak.

Di industri pangan global, provenance increasingly matters.

Buyer bukan cuma membeli protein.

Mereka membeli confidence.

Dan confidence butuh data.

Nelayan tidak otomatis mendapat harga lebih baik hanya karena ada aplikasi

Narasi agritech sering jatuh ke cerita terlalu sederhana.

Sebelum teknologi, petani atau nelayan miskin.

Setelah teknologi, income naik.

Real life tidak segampang itu.

Harga dipengaruhi kualitas.

Musim.

Demand.

Spesies.

Buyer.

Logistics.

Negosiasi.

Produktivitas.

Akses modal.

Kondisi alam.

Aruna dalam publikasi perusahaan menyebut dampak peningkatan pendapatan nelayan pada periode tertentu.

Itu penting sebagai klaim perusahaan.

Tetapi arsip yang fair harus menjaga konteks.

Teknologi bukan magic wand.

Yang lebih menarik adalah mekanisme yang coba dibangun.

Akses pasar lebih luas.

Demand information.

Collection network.

Quality standard.

Cold chain.

Training.

Financial inclusion.

Kalau mekanisme itu bekerja, nelayan punya peluang mendapat economics yang lebih baik.

Tapi outcome individu tetap bisa berbeda.

Pak Hasan, nelayan ilustratif kita, mungkin tidak pernah membuka investor deck Aruna.

Yang ia pikirkan lebih konkret.

“Harga hari ini berapa?”

“Yang ambil siapa?”

“Bayarnya kapan?”

“Kalau grade ini masuk enggak?”

“Besok melaut lagi atau cuaca jelek?”

Transformasi digital di lapangan harus menjawab pertanyaan seperti itu.

Kalau tidak, ia hanya hidup di LinkedIn.

Aruna makin menjadi perusahaan perdagangan terintegrasi

Pada 2026, website Aruna banyak berbicara tentang seafood products, wholesale, international sales, partnership, dan sustainability.

Ini menunjukkan sesuatu yang penting.

Aruna bukan cuma technology facilitator.

Ia berada di commerce layer.

Produk Aruna masuk ke pasar domestik dan internasional.

Ada value-added seafood.

Ada wholesale untuk bisnis.

Ada processing dan fulfillment.

Naspers, salah satu investor besar, bahkan menggambarkan Aruna sebagai end-to-end supply chain aggregator dengan fungsi collection, processing, fulfillment, distribution, financing, dan training.

Itulah identitas yang jauh lebih tepat untuk fase mature perusahaan.

Technology enabled.

Tetapi barangnya tetap ikan.

Dan bisnis ikan ditentukan operational execution.

Ada satu perubahan lain yang penting ketika perusahaan seperti Aruna tumbuh: buyer tidak lagi membeli dari satu desa atau satu musim saja.

Semakin luas jaringan, semakin besar kebutuhan standardisasi. Nelayan di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa bekerja dalam konteks berbeda. Jenis ikan berbeda. Infrastruktur berbeda. Kebiasaan handling berbeda. Jarak ke pelabuhan berbeda.

Platform harus membuat perbedaan itu tetap bisa masuk ke satu sistem quality control tanpa menghapus realitas lokal.

Ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan memaksa semua orang memakai SOP identik secara buta. Standard harus cukup tegas untuk menjaga kualitas, tetapi implementasinya harus mengerti kondisi lapangan.

Di sinilah Aruna Hub punya fungsi lebih dari sekadar tempat menaruh ikan. Hub menjadi titik penerjemahan antara standar buyer dan realitas nelayan.

Kalau proses ini berjalan, technology membantu pasar global menjadi sedikit lebih dekat ke kampung pesisir.

Kalau gagal, dashboard hanya akan menunjukkan data yang rapi tentang operasi yang sebenarnya berantakan.

Ekspor membuat standar naik

Aruna menyebut produknya menjangkau lebih dari 30 negara.

Sekali lagi, ini angka perusahaan.

Tetapi ekspor memang bagian dari model bisnisnya sejak awal.

Pasar global memberi opportunity margin dan demand yang lebih luas.

Sekaligus memberi standar yang lebih berat.

Dokumentasi.

Food safety.

Traceability.

Quality control.

Cold chain.

Regulatory compliance.

Export documentation.

Geopolitical risk.

Currency.

Freight.

Import rule negara tujuan.

Startup lokal yang masuk ekspor seafood harus belajar menjadi perusahaan perdagangan global.

App alone tidak cukup.

Ini seperti seseorang memulai bisnis dari katalog online lalu beberapa tahun kemudian harus paham container schedule, HACCP, customs, dan kualitas produk biologis.

Scale-nya berubah.

Stress-nya juga.

Sustainability bukan pilihan branding

Ada tension yang melekat di bisnis Aruna.

Perusahaan ingin volume naik.

Nelayan ingin pendapatan naik.

Buyer ingin supply stabil.

Tetapi laut punya batas.

Kalau penangkapan berlebihan, semua pihak kalah dalam jangka panjang.

Karena itu Aruna menempatkan sustainability dan edukasi nelayan sebagai bagian dari positioning.

Mereka juga berbicara soal alat tangkap ramah lingkungan dan penggunaan teknologi untuk membantu traceability.

Di sini perusahaan punya tanggung jawab besar.

Sustainability claim harus dapat dibuktikan pada tingkat supply chain, bukan hanya campaign.

Siapa nelayannya?

Metode apa?

Komoditas apa?

Area mana?

Bagaimana data dikumpulkan?

Bagaimana audit dilakukan?

Pertanyaan seperti itu makin penting ketika buyer global punya ESG requirement.

Sustainability sekarang bukan halaman terakhir company profile.

Ia mulai menjadi commercial requirement.

Status Aruna pada 2026

Berdasarkan jejak publik yang tersedia, Aruna masih aktif sebagai perusahaan perikanan terintegrasi.

Website resminya berjalan.

PT Aruna Jaya Nuswantara masih tercantum sebagai entitas.

Perusahaan memasarkan seafood untuk pasar domestik, wholesale, dan internasional.

Aruna masih mempertahankan jaringan hub, nelayan, partner, serta narasi traceability dan sustainability.

Tidak ada dasar untuk menyebut perusahaan berhenti.

Namun angka operasional terbaru yang mereka tampilkan harus tetap disebut sebagai angka perusahaan, bukan data independen.

Juga tidak ada data publik cukup untuk menyimpulkan profitabilitas 2026.

Yang jelas adalah continuity bisnisnya.

Aruna memulai perjalanan sebagai startup yang ingin menghubungkan nelayan ke pasar lewat teknologi.

Sepuluh tahun kemudian, bentuknya menjadi jauh lebih fisik dan industrial.

Hub.

Cold chain.

Processing.

Wholesale.

Export.

Data.

Sustainability.

Itu bukan tanda teknologinya gagal.

Justru sebaliknya.

Ketika technology benar-benar masuk ke sektor primer, ia biasanya berhenti terlihat sebagai “produk teknologi” dan mulai menjadi bagian dari infrastructure.

Pak Hasan di pantai tidak butuh istilah fishtech.

Procurement manager di Jakarta juga tidak.

Yang satu ingin hasil tangkapannya punya pasar dan harga yang fair.

Yang satu ingin supply seafood datang sesuai kualitas.

Aruna hidup di jarak antara dua kebutuhan itu.

Jaraknya panjang.

Kadang melewati laut, gudang, jalan, dan bandara.

Technology hanya salah satu perahunya.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Untuk menempatkan Aruna di dalam struktur arsip, catatan ini terhubung ke metodologi Indonesian Entity Archive, Indeks Status Entitas, Archive Source Register, Kebijakan Koreksi dan Tinjauan Arsip, Entity Relationships.

Relasi arsip dan jalur verifikasi

Scroll to Top